Dinas Pertanian (Disperta) Kota Probolinggo, melibatkan masyarakat dalam rangka menyukseskan penanaman satu miliar pohon (One Billion Indonesian Trees/OBIT). Dengan terlibatnya masyarakat, program tersebut diharapkan cepat terwujud, sehingga bisa menjadikan Kota Probolinggo yang hijau dan bebas dari polusi.
“Dalam hal penanaman satu miliar pohon atau OBIT, kami melakukan sosialisasi pada masyarakat dan melibatkannya, untuk tahun 2012 ini, terhitung sejak 1 Februari 2011 hingga 31 Januari 2012 kami bersama-sama masyarakat Kota Probolinggo sudah berhasil menanam 727.175 pohon yang kita sebar di daerah Kota Probolinggo,” ujar Ika Hudyawati Nugroho Kepala Bidang Kehutanan Disperta Kota Probolinggo, Jumat (9/11).
Ika Hudyawati Nugroho menjelaskan bahwa program penanaman satu miliar pohon tidak akan sukses tanpa melibatkan masyarakat, karena masyarakatlah yang nantinya akan menjaga dan merawat tanaman pohon tersebut.
“Bibit pohon yang kita tanam bersama masyarakat kita sebar di kanan-kiri jalan raya, supaya rindang dan sejuk, lalu kita sebar juga ke kawasan sungai yang ada di Kota Probolinggo, juga di daerah-daerah pusat kota, agar rindang dan hijau. Kesemuanya itu kita melibatkan masyarakat terutama yang berada di daerah sekitar tanaman pohon yang kita sebar, khusus untuk tanaman di kawasan perkotaan kita serahkan ke kelompok tani, biar kelompok tani inilah yang menjaga dan merawatnya,” jelasnya.
“Untuk menyukseskan OBIT 2013 kita akan mengadakan sosialisasi dan event berupa perlombaan penanman pohon kelurahan se Kota Probolinggo, tujuannya supaya masyarakat secara keseluruhan bisa terlibat,” pungkasnya. Sumber Berita
Disperta Kota Probolinggo Libatkan Masyarakat Sukseskan Penanaman Satu Miliar Pohon
Baca Selengkapnya...
Tema Artikel:
Penanaman
Kota Probolinggo Koordinasikan Penyusunan Buku Non Fisik Adipura Tahun 2012-2013
Hari ini (08/11) bertempat di Aula Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Probolinggo Kota, diselenggarakan rapat koordinasi penyusunan Buku Non Fisik Adipura Tahun 2012-2013 sebagai kelengkapan dalam penilaian Program Adipura tingkat nasional yang meliputi penilaian fisik dan non fisik.
Acara ini dibuka oleh Fitri, Kabid Pelestarian, Pengendalian & Pengembangan Kapasitas Lingkungan Hidup pada BLH dan dihadiri oleh beberapa SKPD yang terkait langsung dalam pengisian kuisioner penilaian non fisik, yaitu BLH, Bappeda, Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Pendidikan, Dinas Pertanian, DPPKA, Diskoperindag, Badan Pelayanan Perijinan, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Kelautan dan Perikanan dan PDAM.
Dalam sambutannya Fitri menjelaskan bahwa pengisian kuisioner penilaian non fisik itu sangat penting, walaupun hanya memberikan kontribusi 20% dalam total prosentase penilaian program adipura akan tetapi pada kenyataannya menjadi perhatian tersendiri bagi tim penilai adipura. “Kami harapkan nantinya seluruh undangan yang hadir dapat mengisi form kuisioner yang telah disiapkan dengan data yang valid dan dilengkapi dengan lampiran pendukung dari kuisioner penilaian non fisik adipura ini” terang Fitri dalam sambutannya.
Acara dilanjutkan dengan cara pengisian item kuisoner yang disampaikan oleh Erwan, Ka.UPT Laboratorium Lingkungan. Dalam paparannya Endra menyampaikan tentang pembagian tugas/tanggungjawab SKPD dalam pengisian item kuisioner yang cukup beragam dan memerlukan kordinasi lintas SKPD. Seusai acara paparan ini, maka dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dengan para undangan yang hadir.
“Untuk penyampaian pengisian kuisioner penilaian non fisik ini, kami harapkan sudah dapat diterima secepatnya di BLH paling lambat rabu depan, sebelum libur panjang ya...” terang Fitri yang disambut senyum peserta rapat sekaligus menutup acara rapat koordinasi ini. Sumber Berita
Tema Artikel:
Adipura - Adiwiyata
Yuk, Belanja Aneka Bunga dan Bibit Buah-Buahan di Kawasan TWSL
Bila berekreasi bersama teman atau keluarga ke Taman Wisata Study Lingkungan (TWSL) Mayangan, Anda bisa membeli aneka bunga dan buah-buahan di kawasan sekitar TWSL dengan harga murah dan terjangkau.
Sambil menikmati suasana TWSL yang rindang, sejuk, hijau dan terbuka dengan keanekaragaman satwa yang mempesona turut menambah nyaman akhir pekan Anda.
“Saya berjualan disini sudah cukup lama, kira-kira 3 tahun seiring dengan pembangunan TWSL ini oleh Pemkot Probolinggo. Saya disini menjual beraneka ragam bunga dan buah, seperti Mawar, Kuring, Andong, Anggur, Mangga, Duren, rumput juga saya jual, seperti rumput gajah dan rumput jepang,” jelas Wulan salah satu pedagang di Kawasan TWSL Mayangan saat diwawancaria PedomanNEWS, Rabu (7/11).
Wulan menambahkan, bahwa bunga, dan buah-buahan dijual dengan harga yang bervariatif dan murah. Misalnya bunga Mawar yang dijual dengan harga Rp5000 – Rp10.000 tergantung besar dan kecilnya bunga, Jambu Merah dengan harga Rp15.000, untuk duren Rp200.000, dan anggur dengan harga berkisar antara Rp75.000 – Rp100.000, wulan mejelaskan bahwa pengunjung cukup ramai terutama Sabtu dan Minggu.
“Jumlah pembeli perharinya tidak menentu, kebanyakan mereka membeli Mawar dan Anggur, untuk hari Sabtu dan Minggu bisa mencapai ratusan orang,” ujarnya.
“Alhamdulillah, saya dengan teman-teman yang ada disini cukup diperhatikan oleh Pemkot Probolinggo. Saya disini hanya dipunguti biaya Rp250.000 per tahun, itupun listrik sudah ditanggung oleh Pemkot Probolinggo,” tutupnya. Sumber Berita
Tema Artikel:
TWSL
Peduli Lingkungan Sekolah, Pemkot Kota Probolinggo Gelar Penilaian Adiwiyata
Dalam upaya menciptakan kondisi lingkungan sekolah yang hijau, asri, dan berseri, Pemerintah Kota (Pemkot) Probolinggo giatkan konsep adiwiata sekolah. Sehingga siswa dan siswi bisa menikmati suasana belajar yang nyaman, dan memiliki wawasan lingkungan yang baik.
Dengan diterapkannya konsep adiwiata, berarti warga sekolah harus belajar menghargai lingkungan, dan bertanggung jawab untuk melestarikan lingkungan, terutama lingkungan hidup disekitar sekolah.
“Dalam rangka menjaga lingkungan hidup dan kebersihan sekolah, Pemkot Probolinggo mencoba menerapkan konsep Adiwiata, sehingga warga sekolah dan masyarakat lingkungan sekolah bisa meniru konsep kearifan lingkungan, kami mencoba menerapkan konsep Adiwiata sekolah ini, dengan menggelar penilaian ke sekolah-sekolah, yang nantinya jika sudah berhasil menerapkannya, maka akan kami beri penghargaan Adiwiata Bestari,” ujar Budi Krisyanto, Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Probolinggo, Selasa (6/11).
Budi Krisyanto menjelaskan bahwa penilaian Adiwiata ini, bertujuan untuk menciptakan lingkungan sekolah yang nyaman dan ideal, sehingga siswa dan siswi bisa belajar dengan nyaman, serta mereka secara tidak langsung belajar tentang lingkungan hidup dan kebersihan, dan tertanam tanggung jawab untuk menjaga lingkungan.
Anugrah Adiwiata Bestari ini nantinya akan diberikan ke sekolah-sekolah yang memiliki lingkungan sekolah terbaik, misalnya tanamannya rindang, tamannya terjaga dan terawat dengan baik, warga sekolahnya sudah memiliki kesadaran dan pemahaman lingkungan yang baik.
“Penilaian Adiwiata Bestari mudah-mudahan bulan November 2012 ini bisa rampung, dan tim penilai dihadirkan dari berbagai unsur, sepert dari Pemkot Probolinggo, dan media massa,” pungkasnya. Sumber Berita
Tema Artikel:
Adipura - Adiwiyata
Probolinggo Gelar Rembuk Tukang Becak
Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Probolinggo, Sabtu (03/11/2012) sekitar pukul 9.00 WIB, menggelar Rembug Gawe Tukang Becak. Rembug yang mengusung tema, kujaga, kurawat kotaku Probolinggo (K3 Pro) ini berlangsung di Puri Menggala Bhakti, Kantor Wali Kota.
Ratusan tukang becak mengikuti rembug ini. Mereka dibagi tiga kelompok diskusi yang masing-masing membahas sebuah permasalahan. Kelompok diskusi satu, dengan nama Bayuangga ini, membahas upaya tukang becak untuk menjaga atau merawat taman kota dan memelihara pohon penghijauan.
Sedang kelompok diskusi dua, Bestari, membahas konsep tukang becak menghindari atau mengurangi kebiasaan orang membuang sampah sembarangan. Untuk kelompok terakhir (Tiga) atau Bestari, membicarakan peran tukang becak dalam pencegahan pencemaran air sungai dan mata air.
Pimpinan diskusi, dipilih oleh anggota kelompok dari mereka sendiri, dengan dipandu beberapa petugas dari Badan Lingkungan Hidup. Mereka bebas berdiskusi bersama anggota kelompoknya untuk memecahkan atau mencari jalan keluar topik yang mereka diskusikan.
Seluruh peserta diskusi, diberi secarik kertas dan pulpen) untuk menuliskan berbagai permasalahan yang terjadi di lapangan atau di wilayahnya, sesuai dengan topik yang dibahas di kelompoknya. Mereka juga diberi tugas untuk mencari sumber penyebab, akibat dan upaya menangani permasalahan yang dibahasnya.
Panitia penyelenggara utamanya pemandu, dibikin repot dan harus bekerja ekstra keras. Pihak pemandu harus menerangkan secara detail , agar peserta rapat kerka, benar-benar mengerti. Bahkan petugas lebih banyak menggunakan bahasa pengantar Madura, ketimbang bahasa Indonesia.
Berkali-kali pemandu dan pimpinan diskusi menyuruh peserta diskusi, menulis sumber masalah yang dihadapinya berikut upaya dan akibat yang ditimbulkannya, terkait topik yang sedang dibahasnya. Dari seratusan peserta, hanya sebagian kecil yang mengumpulkan tulisannya. “Sampean saja yang nulis pak. Bukannya saya gak bisa nulis, tapi ruwet mengungkapkan dalam tulisan. Lancaran ngomong langsung,” aku salah satu peserta.
Sang petugas pun menuliskan apa yang diungkapkan peserta diskusi tersebut. Tidak hanya itu, salah satu pemandu, terpaksa memanggil salah seorang temannya yang bisa menggunakan bahasa Madura. Ia kebingungan dengan penjelasan peserta diskusi yang tidak bisa bahasa Indonesia dan menggunakan bahasa madura. Begitu juga sebaliknya, sang peserta sulit atau lama mengerti, jika si pemandu menggunakan bahasa Indonesia.
Kendati agak alot, diskusi yang dimulai pukul 10.30 wib itu, berlangsung suka cita. Pemandu sering terpingkal-pingkal, ketika mendengar jawaban dari peserfta diskusi. Mereka terkadang menjawab sekenanya, bahkan melenceng dari pertanyaan pimpinan dan pemandu diskusi. Bahkan penyampaiannya membuat orang yang melihat dan mendengarnya, tertawa.
Seperti yang terjadi di kelompok tiga, ada salah satu peserta yang menulis penyebab pencemaran air sungai, karena tukang becak membuang air besar dan sering kencing di sungai. Bahkan di kelompok yang sama ada salah satu peserta yang menulis sekenanya. Seperti contonya, Kalau dibuwang ke sugai Hairya buntu. Bahkan ada yang menulis bersih menjadi berse (Bahasa Madura).
Acara diskusi tersebut, ditutup sekitar pukul 13.00 wib. Kendati sudah bubar, para tukang becak tidak lantas pulang. Mereka diajak keliling kota,. Untuk melihat taman di sepanjang jalan ruas kota. Mereka praktek langsung memungut sampah yang berserakan di jalan dan mereka juga diajari merawat taman dan tanaman pinggir jalan.
Kepala BLH, Budi Kristanto, menjelaskan acara rembug ini, merupakan tindak lanjut dari kongres tukang becak sebelumnya. Jika kongres tukang becak sebelumnya membahas masalah pariwisata, perhubungan, koperasi dan ketenagakerjaaan dan lingkungan, rapat kerja tukang becak kali ini bahasannya lebih khusus. Yakni ruang lingkup pelestarian dan perlindungan lingkungan hidup.
Diharapkan, dengan rapat kerja seperti ini, tukang becak berperan aktif ikut menjaga dan merawat lingkungan kota. Karenanya, sebagai langkah awal, kepala BLH memberi gratis bak sampah ukuran kecil kepada tukang becak yang ditaruh di becaknya. “Agar penumpang becak tidak membuang sampah di jalanan. Tukang becaknya harus mengingatkan kalau penumpangnya membuang sampah sembarangan, pungkas Budi Kristanto. Sumber Berita
Tema Artikel:
Mitra Kerja
Lestarikan lingkungan BLH Kota Probolinggo Gelar Kongres Gawe Abang Becak
Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Probolinggo menyelenggarakan Kongres Gawe Abang Becak untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup.
Kongres yang digelar di Puri Manggala Bhakti Kantor Walikota Probolinggo, Sabtu (3/11) diikuti oleh sekitar 200 perwakilan abang tukang becak se Kota Probolinggo.
Bertajuk 'Ku jaga Ku rawat Kotaku Probolinggo (K3Pro)' acara dibuka langsung oleh Wali Kota Probolinggo HM Buchori, dan dihadiri sejumlah pejabat daerah Kota Probolinggo, diantaranya Wakil Wali Kota Probolinggo Bandyk Soetrisno, Sekda Kota Probolinggo Johny Hariyanto dan Kepala BLH Kota Probolinggo Budi Krisyanto.
“Kelestarian lingkungan, baik lingkungan hidup seperti taman dan pepohonannya, maupun lingkungan kebersihan, ini merupakan tanggung jawab kita semua, bukan hanya tanggung jawab Pemkot Probolinggo tetapi tanggung jawab semua komponen masyarakat, termasuk Abang Tukang Becak, yang diperkirakan berjulah 5000 orang di Kota Probolinggo ini”, paparnya.
Wali Kota probolinggo juga menambahkan bahwa abang becak memberi sumbangsih yang tinggi terhadap kelestarian lingkungan di Kota Probolinggo. Terbukti bahwa kongres tukang becak pertama pada tahun 2011 Kota Probolinggo mendapat anugerah Otonomi Award dari Jawa Pos.
Sementara itu Budi Krisyanto Kepala BLH Kota Probolinggo mengatakan bahwa keterlibatan abang becak sangat penting untuk melestarikan lingkungan Kota Probolinggo, yang hijau, bersih, asri dan terbuka. “Keterlibatan abang tukang becak, sangat penting untuk pelestarian lingkungan Kota Probolinggo yang hijau bersih dan terbuka,” ujarnya.
Budi Krisyanto juga menambahkan bahwa abang tukang becak dalam kongres akan membicarakan tentang pelestarian lingkungan diantaranya mengenai, bagaimana cara merawat taman, bagaimana menciptakan kesadaran membuang sampah pada tempatnya dan bagaimana abang becak memberikan sumbangsih kepada masyarakat untuk menjadi masyarakat yang sadar tentag lingkungan. Sumber Berita
Tema Artikel:
Mitra Kerja
Di Kota Probolinggo Abang Tukang Becak Turut Lestarikan Lingkungan
Pemerintah Kota (Pemkot) Probolinggo, melibatkan abang becak untuk turut berpartisipasi dalam menjaga lingkungan. Melalui Rembug Gawe Abang Becak yang digelar, Sabtu (3/11) di Kantor Wali Kota Probolinggo, Kecamatan Mayangan untuk mencapai tata kelola lingkungan perkotaan yang hijau dan bersih.
“Rembug Gawe Abang Becak ini bertujuan agar para abang becak turut memikirkan dan berpartisipasi dalam menjaga dan melestarikan lingkungan Kota Probolinggo, supaya tetap berseri, bersih, asri, terbuka, dan hijau, dengan tema “Ku rawat Ku jaga Kota Probolinggo”, ujar Budi Krisyanto, Kepala Badan Lingkungan Hidup (LBH) Kota Probolinggo, Senin (5/11).
Budi Krisyanto menjelaskan bahwa dalam Rembug Gawe Abang Becak dibagi menjadi tiga kelompok, kelompok pertama akan membahas dan merumuskan bagaimana abang becak menjaga dan melestarikan lingkungan pertamanan yang ada di Kota Probolinggo, Kelompok kedua membahas dan merumuskan, bagaimana abang becak turut serta dalam menjaga kebersihan lalu lintas, jalan raya, dan sadar perlunya lingkungan yang bebas sampah, yang ketiga merumuskan bagaimana abang becak turut menjaga dan melestarikan kebersihan lingkungan sungai.
“Bahwa hasil dari rumusan atau rekomendasi sudah di plenokan, dan Para Abang Becak mereka berikrar akan melaksanakan apa-apa yang sudah dirumuskan bersama. Tentunya ini perlu bimbingan dan pemantauan dari Pemkot Probolinggo, agar program Rembug Gawe Abang Becak ini, bisa sukses sesuai dengan hasil rumusan,” pungkasnya. Sumber Berita
Tema Artikel:
Kegiatan Inovatif
Rapat Persiapan Piala Adipura tahun 2013 Tertibkan Kereta Kelinci dan PKL
Walikota H.M.Buchori didampingi Kepala BLH Budi Krisyanto, memimpin rapat persiapan Piala Adipura tahun 2013, di ruang Sabha Bina Praja, kemarin.
Dalam rapat kali ini hadir beberapa Kepala Satker terkait, seperti DPPKA, Dishub, Badan Pelayanan Perijinan, Diskopindag, Bagian Hukum, Satpol PP, serta Ketua Payuban PKL dan Ketua Paguyuban tukang becak, hasil dari konggres becak.
Kepala BLH Budi Krisyanto mengatakan bahwa, dasar pemikiran dari rapat persiapan Piala Adipura kali ini adalah, upaya menata kawasan alun-alun, untuk pemantauan Adipura tahap 1, serta pemantapan instruksi Walikota berkenaan dengan Car Free Day ( CFD ). "Sangat diharapkan masing-masing penanggung jawab titik pantau, ada kesiapan yang lebih untuk mengantisiasi nilai, " kata Kepala BLH.
Budi Kris mengatakan untuk kereta kelinci yang beroperasi di kota, perlu mendapat pengetahuan tentang rute biar tidak mengganggu yang lain, seperti lewat masjid Jamik waktu sholat, sehingga mengganggu kenyamanan.
Walikota H.M.Buchori mengatakan karena dirinya merasa mendapat amanah, untuk mengelola Kota Probolinggo, termasuk dari segi kebersihan, Walikota mengatakan akan melakukan tindakan tegas, biar tidak menjadi preseden buruk. "Berkaitan dengan keadaan kota yang nyaman, ada simpul-simpul tertentu yang masih mengganggu, misalkan pemasangan spanduk di Brak depan Rumdin, serta Randu Pangger, masih kelihatan semrawut dan tumpang tindih, " kata Walikota.
Suami dari anggota DPR RI Hj Rukmini ini juga mengoreksi, Sabtu dan Minggu parkir kereta kelinci masih rebutan tempat, dan PKL juga semrawut. "Saya sudah meminta Wawali bergerak, kereta kelinci hanya boleh beroperasi di wilayah tertentu tolong di tertibkan, dan Kopindag sebagai pembina PKL supaya menjaga kebersihan," lanjutnya.
Dalam kesempatan ini juga diungkapkan bahwa, Car Free Day sesuai instruksi Walikota akan dilakukan di Jalan Suroyo depan Kantor Pos, Timur Flora, serta barat perempatan dr Saleh. Sumber Berita
Tema Artikel:
Adipura - Adiwiyata
BLH Bondowoso Kunjungi Kota Probolinggo
Kurang lebih 20 orang dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Bondowoso, melakukan kunjungan ke Kota Probolinggo. Hal tersebut dalam rangka mencari informasi tentang sekolah adiwiyata. Kunjungan BLH Bondowoso diterima oleh Sekretaris BLH Siti Masitoh dengan di dampingi Kepala UPT Informasi dan Pendidikan Lingkungan Hidup (IPLH) Diah Sajekti Widowati di Taman Wisata Studi Lingkungan (TWSL).
Menurut Kepala UPT IPLH Diah Sajekti Widowati, kunjungan kali ini adalah mencari informasi sekolah adiwiyata, walaupun Kabupaten Bondowoso sudah memiliki persiapan-persiapan, menuju sekolah adiwiyata.
"Tujuannya adalah mencari informasi tentang sekolah adiwiyata, walaupun Bondowoso sudah memiliki persiapan-persiapan menuju sekolah Adiwiyata ", kata Diah Sajekti.
Setelah dari TWSL tim dari BLH Bondowoso melakukan kunjungan ke 3 sekolah, diantaranya SMA N 1, SMK N 1 dan SMPN 1.Sementara itu perwakilan BLH Bondowoso mengucapkan terima kasih, karena mendapatkan masukan tentang kebijaksanaan masalah dalam lingkungan dan penunjang-penunjang, menuju sekolah Adiwiyata.
Tahun 2012 ini di Kota Probolinggo terdapat 12 sekolah adiwiyata nasional, diantaranya 6 sekolah dengan predika tingkat Nasional, dan 6 sekolah adiwiyata mandiri. Sumber Berita
Tema Artikel:
Kunjungan - Studi Banding
Energi Alternatif Briket Plastik
Ketersediaan sumber energi alam, diantaranya batu bara, minyak bumi bahkan elpiji mulai menipis. Bilamana tidak ada upaya kongkrit secara dini untuk penghematan, maka krisis energi akan berdampak negatif bagi kehidupan manusia. Perlu diberikannya pemahaman akan menipisnya sumber daya energi kepada masyarakat, sehingga masyarakat mau berhemat dalam penggunaannya. Selain itu juga diharapkan agar masyarakat mau usaha dengan menggunakan energi alternatif.
Untuk memfasilitasi permasalahan tersebut, Pemerintah Kota Probolinggo menghelat acara Pelatihan Pembuatan Briket Plastik, yang diadakan di TWSL Kota Probolinggo, pagi tadi (15/10). Kegiatan ini ditujukan kepada Kelompok Tani tembakau Sumber Hidup dari Kelurahan Sumber Wetan.
Sebagaimana yang disampaikan oleh Dyah Sajekti, Kepala UPT. TWSL Badan Lingkungan Hidup, bahwa kegiatan ini untuk mensosialisasikan tentang manfaat, penggunaan, serta pembuatan briket arang agar bisa diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Pemanfaatan plastik yang diubah menjadi briket arang, memiliki nilai ekonomis yang tinggi. “ Salah satu bentuk pelestarian lingkungan dengan memanfaatkan sampah plastik. Plastik dapat mencemari tanah, air, dan juga butuh proses yang lama dalam penguraiannya” ulas Dyah.
Agar lebih paham tentang bagaimana proses pembuatannya, Panitia mendatangkan narasumber dari ITS (Institut Teknologi Surabaya), Rachmat Boedusantoso. Sebelum Dosen IYS memjelaskan dengan detail proses pembuatannya, Budi Krisyanto, Kepala BLH memberikan arahan tentang peduli lingkungan dan pengolahan limbah. Di Kota Probolinggo sudah banyak dikembangkan pengolahan sampah berbasis masyarakat. Komposting, energi alternatif kotoran ternak, energi alternatif gas methan dan banyak lagi lainnya. “Setiap limbah masih memungkinkan untuk dijadikan sumber energi alternatif, paling tidak dapat dijadikan sebagai tambahan ekonomi” terang Budi Kris. Selanjutnya Budi Kris memberikan bantuan alat pres briket kepada kelompok tani yang bersumber dari dana Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau.
Untuk pembuatan Briket, banyak bahan yang bisa digunakan, diantaranya serbuk kayu, bonggol pisang, bonggol jagung, kulit kop, bahkan plastik. Selain itu tepung kanji sebagai perekat, natrium nitrat dan bentonit. Tahap demi tahap dijelaskan oleh Rachmat, tampak para petani antusias mendengarkan dengan seksama. Sumber Berita
Tema Artikel:
Sosialisasi - Pelatihan
Workshop Kota Probolinggo Sebagai Kota Berketahanan Terhadap Perubahan Iklim
Hari ini (10/10) Badan Lingkungan Hidup Kota Probolinggo meghelat gawe besar, yaitu Workshop Mewujudkan Kota Probolinggo sebagai Kota Berketahanan Terhadap Perubahan Iklim.
Tidak tanggung-tanggung, cara tersebut mendatangkan narasumber dari Luar Negeri (Amerika Serikat) yaitu Omar Saraho yang merupakan Director Urban Development dan Climate Advisor lembaga Mercy Corp.
Workshop tersebut diawali dengan sambutan dari Budi Krisyanto, Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Probolinggo. Dalam sambutannya Budi Krisyanto menyampaikan bahwa bulan November mendatang aka nada 3 agenda besar yang berkaitan dengan Lingkungan Hidup. “ada 3 kegiatan yang akan dihelat pada bulan November mendatang secara berurutan yaitu: tanggal 3 November ada kegiatan Raker Tukang Becak tentang Lingkungan Hidup, tanggal 4 November ada Sutjipto Widjojo yang akan memaparkan tentang Lingkungan Hidup, dan tanggal 5 November diadakan kegiatan Penanaman Pohon dalam rangka Hari Puspa dan Satwa” kata Budi Kris.
Acara itu dilanjutkan pemberian sambutan oleh perwakilan dari lembaga Mercy Corp, Omar Saraho. Dalam sambutannya Saraho memuji Indonesia yang telah mengambil langkah kongkrit untuk menghadang laju perubahan iklim.
“Indonesia adalah pionir terhadap penanggulangan perubahan iklim. Saat Amerika Serikat masih mempertanyakan apakah climate change itu nyata atau tidak, Indonesia sudah mengambil langkah kongkrit untuk menanggulanginya.” tegas Saraho.
Sebagai pamungkas adalah sambutan dari HM Buchori, Walikota Probolinggo. Dalam sambutannya, Buchori kembali menegaskan pentingnya peran serta masyarakat untuk dilibatkan secara langsung dalam kegiatan pelestarian lingkungan semacam ini.
“Kegiatan untuk penanggulangan perubahan iklim ini hendaknya dapat merubah perilaku masyarakat. Harus ada upaya untuk mengikut sertakan masyarakat untuk merawat lingkungan hidup, sebagaimana merangkul tukang becak dan komunitas lainnya” tegas Buchori.
Workshop ini diharapkan akan membangun sebuah mindset dan mendorong langkah kongkrit untuk mewujudkan penanggulangan dampak serius atas terjadinya perubahan iklim. Semoga dapat terwujud. Sumber Berita
Tema Artikel:
Perubahan Iklim
Taman Wisata Study Lingkungan Kota Probolinggo Sedot Ribuan Pengunjung
Taman Wisata Studi Lingkungan (TWSL) Kota Probolinggo atau yang lebih akrab disebut Kebun Binatang Probolinggo, mampu menarik hingga ribuan pengunjung.
“Bila hari-hari libur, seperti hari minggu, atau hari-hari besar nasional, jumlah pengunjung yang datang ke TWSL Kota Probolinggo mencapai 1000 pengunjung, terdiri dari anak-anak dan oreng dewasa,” ujar Ratna Fatmawati mewakili pengelola TWSL.
TWSL merupakan kebun binatang mini, dalam management pengelolaannya berada dibawah naungan Pemerintah Kota Probolinggo. TWSL difungsikan sebagai paru-paru Kota probolinggo, karena sebagai kebun binatang satu-satunya di Kota Probolinggo. Koleksi fauna TWSL mencapai 240 jenis yang meliputi unggas, mamalia, ikan dan reptil.
TWSL menjadi salah satu tujuan wisata di Kota Probolinggo, terlebih pada hari libur, dan hari-hari besar nasional lainnya. “Pengunjung TWSL terdiri dari anak-anak dan orang dewasa, dengan tarip murah dan terjangkau, anak-anak dikenakan tarip tiket Rp 2000 dan untuk dewasa Rp 3000,” ujar Ratna Jumat (5/10), di TWSL yang terletak di Kecamatan Mayangan.
Di TWSL juga menyajikan film-film animasi, yang bisa menarik perhatian anak-anak sekolah, terutama anak-anak SD dan SMP. “Film-film yang disajikan, biasanya film-film yang bertajuk kelestarian lingkungan hidup,” tutupnya. Sumber Berita
Tema Artikel:
TWSL
Sudsidi Kompos 50 Persen Untuk Petani Kota
Pemkot melalui BLH, memberikan subsidi 50 persen untuk pupuk kompos, merek biokompos Bayuangga Lestari, buatan BLH yang sudah mengantongi sertifikat produk dari Kemenkumham, yaitu sertirikat merek tahun 2009.
Menurut Kepala BLH Budi Krisyanto, melalui Kepala UPT sampah dan limbah Dwi Agustin Pudji Rahayu, subsidi hanya diberikan kepada petani yang ada di Kota Probolinggo, untuk petani yang berada di luar Kota Probolinggo
"Kalau kota ada subsidi bayarnya hanya 50 persen, dari harga 750 rupiah per kilogram, petani kota hanya bayar 375 rupiah saja, kalau luar Probolinggo harga tetap, Kompos kita bermerek biokompos Bayuangga Lestari, yang sudah memiliki sertifikat produk dari Kemenkumham yaitu sertifikat merk tahun 2009, dan saat ini sedang kita daftarkan ijin edar di Kementan, dan sekarang masih uji mutu" Kata Yayuk panggilan akrabnya.
Perempuan berjilbab ini menjelaskan beberapa keuntungan kompos diantaranya, menggemburkan tanah, memperbaiki struktur dan tekstur tanah, menurunkan aktifitas mikro organisme yang merugikan, menghemat pemakaian pupuk buatan, meningkatkan komposisi mikroorganisme tanah, media pertumbuhan mikroba, menurunkan dampak kekeringan, meningkatkan daya ikat tanah, juga mengurangi dampak negatif akibat pemakaian bahan kimia secara terus menerus.
"Keuntungannya buat tanaman adalah, menyediakan unsur hara, meningkatkan pertumbuhan tanaman, meningkatkan produksi dan kualitas hasil produksi, serta menekan tingkat serangan penyakit dan menguatkan batang tanaman " Pungkasnya. Sumber Berita
Tema Artikel:
Penerapan 3R
Tanam Pohon HUT TNI Ke 67
Kodim 0820 Wilayah Probolinggo dalam rangka memperingati HUT TNI KE 67 Tahun 2012 bekerja sama dengan BLH Kota Probolinggo melakukan penanaman pohon mangrove jenis tinjang sebanyak 1000 pohon di lokasi pantai wisata mangrove yang terletak disisi selatan Pelabuhan Pantai Perikanan Mayangan, Jum’at (28/09) baru-baru ini.
Hadir dalam acara penanaman pohon mangrove dalam rangka HUT TNI Ke 67 adalah Komandan Kodim (Dandim) 0820 Probolinggo Letkol. Inf Alfi Sahri Lubis, Wali Kota Probolinggo H.M. Buchori SH. Msi, Wakapolres Probolinggo Kota Kompol Suparyono SH, Komandan Kompi (Danki) Yon Zipur 10 Probolinggo, Kepala BLH Kota Probolinggo Ir. Budi Krisyanto, Asisiten Ekonomi dan Pembangunan Drs. Matalil, Kepala Dinas Pertanian Kota Probolinggo Ir. Yudha Sunantya, serta segenap Kepala SKPD terkait lainnya dilingkungan Pemkot Probolinggo.
Acara diawali oleh laporan Ketua Pelaksana Kapten ARM Suhartono yang melaporkan bahwa, kegiatan penanaman 1000 pohon mangrove Kodim 0820 dalam rangka memperingati HUT TNI Ke 67 tahun 2012 bekerja sama dengan BLH Kota Probolinggo dengan diikuti oleh 300 personil terdiri dari 125 personil anggota Kodim 0820, Bapras 20 personil, anggota GM FKPPI 25 personil, Pelajar SMAN 1 Probolinggo 25 personil, TNI AL 4 personil, anggota TNI Yon Zipur 10 Probolinggo 30 personil, stap dan karyawan BLH Kota Probolinggo 30 personil, serta dari instansi terkait sebanyak 50 personil . Dan jenis pohon mangrove yang ditanam dalam rangka HUT TNI Ke 67 ini adalah jenis tinjang.
Acara selanjutnya sambutan Komandan Kodim 0820 Letkol Inf. Alfi Sahri Lubis yang menyampaikan, bahwa dalam rangka memperingati HUT TNI Ke 67 tahun 2012 pihaknya beker sama dengan BLH Kota Probolinggo melakukan penanaman 1000 pohon mangrove jenis tinjang. Dandim juga menyampaikan apa yang menjadi kepentingan Pemerintah pihaknya akan komitmen dan membantu.
Dandim 0820 Probolinggo Letkol Inf. Alfi Sahri Lubis dalam sambutannya juga mengatakan, bahwa penanaman pohon mangrove ini juga merupakan perintah atasan dalam upaya menjaga Ketahanan Nasional. Kalau pohon mangrove ditepi pantai dalam kondisi tebal ini akan dapat mengganggu pandangan musuh kedalam pulau atau untuk masuk ke wilayah Negara Indonesia, ungkap Dandim.
Selain berfungsi untuk menjaga Ketahanan Nasional penanaman pohon mangrove juga bisa menjaga pantai dari abrasi, menjaga perubahan iklim global, serta penanaman pohon mangrove kodim 0820 dalam rangka HUT TNI Ke 67 tahun 2012 yang bekerja sama dengan BLH Koa Probolinggo ini juga dalam rangka ikut mensukseskan OBIT di Kota Probolinggo, terang Dandim.
Penanaman pohon mangrove juga merupakan upaya untuk menjadikan paru-paru dunia. Itulah yang menjadi alas an TNI sangat serius terhadap segala bentuk penghijauan, ini sudah menjadi konsen dan komitmen TNI, ujar Dandim diakhir sambutannya.
Sedang Wali Kota Probolinggo HM. Buchori dalam kesempatan nenyampaikan sambutannya mengatakan, bahwa tanaman pohon mangrove di lokasi Wisata Pantai Mayangan ini menjadi andalan Pemerintah Kota Probolinggo dalam menciptakan Wisata Mangrove. Disekitar Wisata Mangrove ini nanti juga akan dibangun bom-bom wisata hiburan anak-anak dan wisata laut. Dan perlu diketahui bahwa Kota Probolinggo mangrovenya paling tebal seluruh Jawa Timur, yang perlu kita lakukan sekarang pantai yang pohon mangrovenya tipis kita Tanami biar bisa tebal, ungkap Wali Kota.
Wali Kota HM. Buchori dalam sambutannya juga menyampaikan kalau dunia sekarang hanya mengandalkan hutan Negara Indonesia dan Brazil untuk menjaga paru-paru dunia. Oleh karena itu kami berharap agar TNI dan POLRI supaya koordinasi dengan Pemerintah setempat untuk melakukan penanaman pohon. Ini merupakan himbauan Presiden untuk mensukseskan penanaman 1 miliar pohon, tuturnya. Sumber Berita
Tema Artikel:
Penanaman
Teater Sadar Lingkungan
Hari ini (25/9) Badan Lingkungan Hidup menghelat gawe besar. Acara tersebut adalah Festival Teater bertema “Lingkungan” tingkat SLTP-SLTA se Kota Probolinggo. Acara ini merupakan rangkaian dari HUT Kota Probolinggo yang ke 653.
Mengawali kegiatan ini adalah sambutan dari Ketua Forum Kota Sehat Kota Probolinggo, Sukardi Mitho. Dalam sambutannya, Sukardi Mitho menekankan pentingnya kesadaran akan Lingkungan. “Kesadaran akan lingkungan tak dapat diberikan secara instan lewat iklan, tapi harus dididik sejak dini dan lewat berbagai media, termasuk teater..” Kata Sukardi Mitho
Acara yang berlangsung di Gedung Bioskop Regina itu dibuka oleh Johnny Haryanto, Sekda Kota Probolinggo. Dalam sambutannya, Johnnya memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan teater bertema lingkungan ini. “kegiatan berkaitan dengan lingkungan ini penting. Tidak hanya iklan tentang lingkungan lewat poster dan tulisan tapi harus diapresiasikan melalui aksi seperti teater ini..” tegas Johnny.
Acara festival teater ini diikuti oleh 14 tim dari SLTP-SLTA se Kota Probolinggo. Antusiasme pun terlihat dari padatnya ruangan yang dipakai sebagai tempat teater. Semoga saja generasi penerus ini mampu berbicara banyak lewat aksi teatrikalnya. Sumber Berita
Tema Artikel:
Kegiatan Inovatif
BLH Probolinggo Gelar Lomba Kelurahan Berseri
Turut memperingati Hari Jadi Kota Probolinggo yang ke-653, Balai Lingkungan Hidup (BLH) Kota Probolinggo dalam selama satu minggu menggelar lomba Kelurahan berseri, yang diikuti oleh 10 Kelurahan, mewakili 5 Kecamatan yang ada di Kota Probolinggo.
10 Kelurahan tersebut diantaranya, Kecamatan Kademangan di wakili oleh Kelurahan Ketapang dan Pilang, Kecamatan Wonoasih di wakili oleh Kelurahan Kedungasem dan Pakistaji, Kecamatan Mayangan di wakili Kelurahan Sukabumi dan Mangunharjo, Kecamatan Kanigaran di wakili oleh Kebonsari Kulon dan Curah Grinting, dan Kecamatan Kedopok di wakili oleh Kecamatan Sumberwetan dan Jrebeng Lor.
Menurut Kepala BLH Budi Krisyanto, latar belakang di gelarnya lomba bertajuk kampung hijau bersih ini adalah, karena kampung mempunyai potensi cukup besar, untuk bisa di wujudkan menjadi kampung yang hijau, bersih dan indah.
Mantan Kepala Bappeda ini juga menuturkan bahwa, partisipasi masyarakat perlu untuk terus di dorong, untuk mewujudkan kebersamaan, dalam menciptakan kampung yang hijau, bersih dan indah.
" Harapannya akan mempercepat terwujudnya kampung hijau, bersih dan indah dis eluruh Kota Probolinggo, mempercepat terwujudnya green city, menuju kota berkelanjutan " Kata Budi Krisyanto.
Sementara itu Kabid pelestarian, pengendalian, dan pengembangan kapasitas lingkungan hidup pada BLH Fitriawati mengatakan bahwa, karena masih baru pertama kali di gelar, tidak semua Kelurahan mendapatkan nilai yang bagus, untuk itu nantinya akan dilakukan pembinaan.
Rencananya, pemenangnya akan di umumkan, pada saat apel hari jadi Kota Probolinggo 18 September, dan pemenang lomba kampong berseri kali ini akan mewakili Kota Probolinggo, dalam ajang Kelurahan bersih dan lestari (berseri) Tingkat Propinsi Jatim. Sumber Berita
Tema Artikel:
Kegiatan Inovatif
Probolinggo Masuk 3 Besar Inovasi Management Perkotaan (IMP) Award 2012
Hari kamis tanggal 6 September 2012 kemarin, Kota Probolinggo mendapat tamu istimewa dari Jakarta, yaitu Tim Juri Nasional untuk Inovasi Management Perkotaan (IMP) Award 2012. Tim Juri Nasional tersebut beranggotakan 2 orang Juri dan seorang pendamping.
Diawali dengan sambutan dari Sekretaris Daerah Kota Probolinggo, Bapak Drs. H. JOHNY HARYANTO, M.Si, yang berisi tentang ungkapan syukur bahwa Kota Probolinggo yang berjuluk “Kota Seribu Taman” ini telah masuk 3 besar dari 36 Kabupaten/Kota se-Indonesia.
Dalam kunjungan ini lokasi-lokasi yang menjadi titik concern untuk ditinjau dari Tim Juri tersebut antara lain: Pokmas ‘Indah’ Kelurahan Sumber Taman, Pokmas Prasaja Mulya Kelurahan Kareng Lor, Ponpes Al-Badriyah (Eco Pesantren), SMA Negeri 2, Bank Sampah Pasar Baru, TPA Bestari, UPT Komposting dan Taman Wisata Study Lingkungan.
Secara umum Tim Juri menilai bahwa Kota Probolinggo tidak kalah dibandingkan dengan Kota besar seperti Surabaya. Hal ini disampaikan oleh Pak Sodiq (salah satu Juri) yang mengatakan bahwa jalan didalam hutan mangrove di Kota Surabaya adalah sepanjang 600 meter, sedangkan Kota Probolinggo mampu menyediakan 450 meter. Ini sebuah prestasi yang luar biasa dalam konteks konservasi lingkungan.
Pendapat positif juga disampaikan untuk upaya pengolahan sampah. Juri sepakat bahwa pengolahan sampah di Kota Probolinggo ini telah baik. Terlihat dari optimalisasi pemanfaatan sampah tersebut menjadi lebih ekonomis. Mulai dari pembuatan kompos, gas metan, bahan bakar dari plastik hingga rencana menjadikan pengolahan sampah menjadi sebuah BUMD.
Namun semua aspek positif tersebut bukan berarti tak memiliki kekurangan. Ada beberapa point yang disampaikan Tim Juri berkaitan dengan penilaian dan masukan agar Kota Probolinggo menjadi lebih baik. Kritik dan masukan tersebut antara lain pada Ponpes Al-Badriyah yang menjadi motor Eco-Pesantren sekaligus lokasi pengolahan limbah plastik.
Menurut Tim Juri, Ponpes yang dipimpin oleh Kyai Hafidz tersebut kurang memiliki ventilasi sehingga udara terasa pengab dan kurang sehat. Kemudian tanaman vertical yang berfungsi sebagai estetitka juga tidak ada. Kemudian kritik juga diberikan pada SMA Negeri 2. Menurut para Juri, pihak pengelola sekolah kurang terintegrasi dengan kegiatan baik lokal maupun nasional. Padahal kegiatan tersebut berfungsi untuk menambah wawasan dan pengetahuan siswa maupun guru.
Kunjungan kemudian dilanjutkan ke TWSL dan lokasi eco-wisata hutan mangrove. Menurut para Juri, pengelola hutan harus mulai mempelajari teknis pengaturan pasang surut air laut, sebab mangrove akan tumbuh dengan baik pada air payau (perpaduan air laut dan tawar).
Lokasi terakhir yang dikunjungi adalah UPT TPA dan Komposting, masukan yang diberikan antara lain mengenai rencana menjadikannya BUMD oleh Pemerintah Kota Probolinggo. Menurut para Juri, untuk memenuhi aspek tersebut maka volume kompos harus 50 ton agar dapat memberikan nilai ekonomis berupa gas metan yang cukup untuk menggerakkan generator bertenaga metan yang mampu menghasilkan listrik hingga 0,3 Megawatt. Dengan demikian, maka nilai ekonomis yang didapat akan mampu menjadikan UPT Komposting mandiri secara financial, tak tergantung pada APBD yang merupakan prasayarat untuk naik menjadi BUMD.
Dari itu semua, diharapkan Kota Probolinggo dapat menyabet Juara Inovasi Management Perkotaan (IMP) Award 2012. Mengingat, saat ini tinggal 3 Kota dari 36 Kabupaten/Kota se-Indonesia yang bersaing dan salah satunya adalah Kota Probolinggo. Semoga. Sumber Berita
Tema Artikel:
Prestasi
Pelatihan Pembuatan Briket Bagi Pemulung
Walikota Probolinggo, H.M. Buchori, pagi ini (27/07) membuka secara resmi acara sosialisasi dan pelatihan daur ulang sampah dan penggunaan sumber energi alternativ (briket) di Puri Manggala Bhakti Pemerintah Kota Probolinggo yang diikuti oleh ratusan pemulung dari seluruh Kota Probolinggo.
Dalam laporannya, Kepala Pusat Informasi dan Pendidikan Lingkungan Hidup BLH, Diah Sajekti, mengatakan bahwa tujuan sosialisasi pelatihan daur ulang sampah ini adalah untuk memberikan wawasan, pengetahuan dan ketrampilan kepada pemulung tentang kegunaan dan manfaat daur ulang sampah, mengingat pemulung adalah pahlawan kebersihan tanpa tanda jasa. " Tujuan lainnya adalah mengurangi pencemaran tanah,air, dan udara serta menurunnya kualitas lingkungan, memberikan nilai tambah dan peningkatan pendapatan bagi pemulung" kata Diah Sayekti.
Sementara itu Walikota H.M.Buchori dalam sambutannya mengatakan bahwa, untuk mengantisipasi terjadinya kerugian, baik bagi kesehatan maupun lingkungan, diperlukan upaya pencegahan dan antisipasi terhadap permasalahan sampah. " Upaya tersebut adalah 3R, yang pertama adalah Reduce adalah pola perilaku yang dapat mengurangi produksi sampah, kedua adalah Reuse menggunakan kembali barang yang masih dapat digunakan, dan Recycle yaitu mengolah kembali dengan cara memanfaatkan barang bekas" terang Walikota. Lebih lanjut menurut H.M. Buchori, langkah di atas diharapkan mampu mengurangi, bahkan meminimalisir sampah yang masuk ke TPA.
Setelah pembukaan acara dilajutkan dengan sosialisasi, yang menghadirkan 3 (tiga) narasumber diantaranya duta lingkungan hidup Asia Pasifik Vanisa Santoso, yang menyampaikan materi daur ulang sampah, Deni Noviantoro dari CV Legra Godeo yang menyampaikan materi pemilahan plastik, dan narasumber ke tiga adalah Papesa (paguyuban peduli sampah) yang mengajari pemanfaatan komposer dalam pengelolan sampah.
Narasumber pertama yaitu duta lingkungan hidup Asia Pasifik, Vania Santoso, mengatakan bahwa barang daur ulang jangan sekedar asal buat, harus unik, berguna dan rapi, serta sesuai selera permintaan. " Sampah bisa kita olah lagi, dan mendapatkan hasil yang lebih bermanfaat, jangan sia-siakan sampah, dan jangan sengaja membuang sampah untuk produk-produk yang akan kita buat" kata Vania. Sementara itu narasumber kedua, Deni Noviantoro, mengatakan bhawa setiap sampah plastik mempunyai nilai, dan narasumber ke tiga dari Papesa lebih banyak mengajarkan teknis memanfaatkan sampah, menjadi barang-barang yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Sumber Berita
Tema Artikel:
Sosialisasi - Pelatihan
Konsultasi Publik Kerjasama GIZ Jerman
Berangkat dari kekhawatiran akan dampak perubahan iklim yang terjadi beberapa tahun terkahir ini, Pemerintah Kota Probolinggo kembali memperkuat kerjasamanya dengan pemerintah Jerman (baca: Tim Paklim GIZ) dalam wujud program Konsultasi Publik Rencana Aksi Perubahan Iklim Kota Probolinggo 2012.
Kegiatan yang dihelat Kamis lalu (12/8) di Aula Dinas Pendidikan sekitar pukul 8 pagi ini, dihadiri dan dibuka secara langsung oleh Walikota Probolinggo, HM. Buchori SH. M.Si.Selain Walikota Buchori, tampak hadir pula Ketua Komisi C DPRD Kota Probolinggo, Haris Nasution, dan narasumber dari Paklim GIZ Jerman, Yoke
Selain sebagai sarana pemaparan kegiatan Pokja Paklim (Kelompok Kerja Dampak Lingkungan dan Iklim) Kota Probolinggo sejak melaksanakan kerja sama dengan GIZ, program ini juga dimaksudkan sebagai pendukung komitmen pemerintah pusat sebagai salah satu solusi perubahan iklim dengan rencana penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 18 % (Program Nasional sebesar 26%) pada tahun 2020 dan sebagai sarana sharing program aksi adapatasi dan mitigasi bersama dengan warga masyarakat Kota Probolinggo.
“Tujannya tentu saja adalah untuk semakin memantapkan komitmen Pemkot Probolinggo dalam hal kepedulian lingkungan. Khususnya membuka pengetahuan dan pemahaman kita semua tentang pelestarian lingkungan yang bersumber pada 8 pokok metifasi (metigasi dan adaptasi, red.).” ujar Kepala BLH, Budie Krisyanto di sela-sela acara kepada Suara Kota.
Kegiatan yang dihadiri oleh kurang lebih 100 orang undangan (terdiri dari SKPD, perwakilan 5 Kecamatan, mitra BLH, media massa, perguruan tinggi, IUWASH dan AUSAID, perwakilan BLH Kabupaten Probolinggo, LPM Kecamatan, Forum Lalu Lintas, Gapoktan, dll.) ini merupakan kegiatan tindak lanjut (program intermediet) dari perjanjian kerjasama (MoU) antara Pemkot dan Paklim GIZ Jerman yang ditandatangani 13 Desember 2010 silam di Surabaya.
Tercatat, selain Kota Probolinggo, hanya 4 kota saja di Jawa Timur yang mendapatkan rekomendasi dari Kementrian Lingkungan Hidup untuk mendapatakan bantuan teknis terkait perubahan iklim, antara lain: Kota Malang, Kota Pasuruan dan Mojokerto. Dan di tahun 2012 ini, akan menyusul Pemerintah Kota Blitar.
“Kami (Pemerintah Kota Probolinggo, red.) menyadari bahwa kota, dalam hal ini wilayah perkotaan merupakan penghasil 2/3 emisi CO2 dan diperkirakan terus bertambah seiring degan bertambahnya jumlah penduduk, industri, transportasi, jumlah timbunan sampah, dll. Ini masalah. Ini permaslahan. Tapi sebagai kota yang berkelanjutan, sebagai sustainable city, kami sebagai pemerintah harus punya jalan keluar tentang bagaimana memenuhi kebutuhan masyarakat saat ini tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi di masa mendatang,” papar Budie Kris di hadapan para undangan dan peserta yang hadir dalam kegiatan konsultasi publik pagi itu.
“Artinya adalah dengan memperbaiki atau mencegah kehancuran lingkungan tanpa mengorbankan kebutuhan pembangunan ekonomi dengan memperhatikan keadaan sosial,” imbuh pria yang dikenal sangat dekat dengan bawahannya ini.
Lebih lanjut Budie Kris menjelaskan bahwa perubahan iklim tidak bisa dicegah, tapi bagaimana masyarakat punya ketahanan yang tinggi terhadap perubahan iklim. “Membangun kota yang punya ketahanan tinggi terhadap perubahan iklim,” ungkapnya jujur.
Menimpali apa yang sudah disampaikan oleh Budie Kris, dalam sambutannya, perwakilan Paklim GIZ Jerman pun mengapresiasi tinggi dengan komitmen Pemerintah Kota Probolinggo, terutama komitmennya terhadap kelestarian lingkungan.
“Saya sangat mengapresiasi komitmen Pemerintah Kota Proboliggo untuk mengurangi efek kaca yang akan dibahas dan dirumuskan dalam rencana aksi pagi ini. Yakni 18% dari 26% level nasional. Ini langkah yang baik dan cukup berani bagi saya,” sambut Yoke antusias pagi itu.
Namun lebih lanjut Yoke juga mengungkapkan bahwa keberhasilan program ini bukan terletak pada komitmen belaka, tapi juga bagaimana pemerintah kota dapat mengkomunikasikan program dan komitmen tersebut kepada masyarakat untuk, dalam rangka meningkatkan kesadaran, dan menjadi wujud bersama yang nyata.
Dalam sambutannya di hadapan Walikota Buchori pun, Yoke berharap bahwa nantinya peserta dapat aktif memberikan sumbangan pemikirannya terhadap rumusan aksi yang akan digunakan sebagai dasar pijakan oleh Pemerintah Kota Probolinggo dalam melaksanakan aksinya.
“Dan saya berharap para peserta, dapat memberikan kontribusi pemikiran secara aktif dalam forum yang digelar pagi ini,” harap Yoke dalam bahasa Inggris yang kemudian dialih bahasakan oleh penerjemah yang memang sudah disediakan oleh BLH, agar lebih mudah dipahami oleh para peserta rencana aksi.
Memang, dalam diskusi panel yang berlangsung setelah acara pembukaan tersebut, nantinya para peserta dibagi ke dalam 4 kelompok, dan masing-masing kelompok peserta akan dipandu oleh pemandu diskusi dalam membahas dan mengidentifikasi mengenai peran stakeholder terhadap aksi perubahan iklim di Kota Probolinggo, baik dari sektor transportasi, penguatan kapasitas kelmbagaan masyarakat, pengolahan sampah, konservasi sumber daya air dan ruang terbuka hijau serta penghematan energi.
Walikota Probolinggo sendiri, dalam sambutannya, berharap bahwa kegiatan ini dapat berlangsung dengan baik.
“Saya berharap kegiatan ini dapat berlangsung baik dan lancar, serta dapat menghasilkan perubahan yang positif bagi Kota Probolinggo, khususnya bagi ketahanan masyarakat dalam menghadapi efek dari perubahan iklim yang terjadi saat ini.” harap Walikota Buchori.
Sebagai rencana tindak lanjut, kegiatan konsultasi publik rencana aksi perubahan iklim ini akan berlanjut pada aksi nyata dan workshop dengan tema “Bagaimana mewujudkan Probolinggo sebagai Kota Berketahanan terhadap Perubahan Iklim”. Sumber Berita
Tema Artikel:
Perubahan Iklim
Antisipasi Perubahan Iklim
Dalam rangka identifikasi stakeholder aksi perubahan iklim Kota Probolinggo, kemarin (12/7) Pemkot melalui BLH, menggelar diskusi panel di Aula Dispendik.
Diskusi panel di awali dengan pemaparan perubahan iklim oleh Kepala BLH Budi Krisyanto, menurut Kepala BLH ada 8 strategi terpadu perubahan iklim Kota Probolinggo. Di iantaranya menciptakan sistim tranportasi yang efektif dan efisien, meningkatkan pengendalian penggunaan energi pada bangunan Pemerintah terutama PJU dan air bersih, meningkatkan konservasi sumberdaya air dan hutan.
"Strategi lainnya adalah meningkatkan pengolahan sampah dan air limbah secara terpadu, meningkatkan produktifitas tanaman melalui pengendalian hama dan penyakit secara alami, serta meningkatkan pembinaan peran serta masyarakat, dalam pengehematan energi," kata Budi Krisyanto.
Setelah pemaparan dari Kepala BLH, acara dilanjutkan dengan diskusi panel, yang di bagi dalam 4 kelompok, yaitu kelompok A, B, C, dan kelompok D.
Masing-masing kelompok punya pembahasan yang berbeda, dan hasil dari diskusi panel, dalam waktu dekat direncanakan akan ada pertemuan, dengan ebberapa paguyuban diantarannya paguyuban abang becak, paguyuban PKL, dan setelah lebaran hasil dari diskusi panel akan di bawa ke dalam forum yang lebih besar, yaitu forum lokakarya. Sumber Berita
Tema Artikel:
Perubahan Iklim
Subscribe to:
Posts (Atom)











