Kota Probolinggo menjadi yang keenam dari peluncuran unit pengolahan sampah organik terpadu pasar tradisional. Sementara, lima kota sebelumnya yang menjadi rangkaian dari kegiatan Yayasan Danamon Peduli bertajuk Pasarku Bersih Sehat Sejahtera adalah Bantul, Sragen, Wonosobo, Pacitan, dan Grobogan. Unit kompos ini diserahterimakan Ketua Umum Yayasan Danamon Peduli Risa Bhinekawati kepada Wali Kota Probolinggo HM Buchori disaksikan Pimpinan Danamon Simpan Pinjam wilayah Jawa Timur Bagian Timur dan Selatan Andi Joeffen serta Muspida lingkungan Kota Probolinggo,pada Senin (16/3).
Sebagian besar lahan (sekitar 62,47 persen) di Kota Probolinggo, merupakan lahan pertanian. Dominasi lahan pertanian ini menuntut ketersediaan pupuk yang tinggi untuk pengelolaan pertanian. Berdasarkan data statistik, kebutuhan pupuk untuk kegiatan pertanian di Kota Probolinggo pada 2008 mencapai 2.953 ton. Jika seluruh petani di Kota Probolinggo menggunakan pupuk organik dan berdasarkan lahan pertanian yang ada, akan dibutuhkan pupuk organik sebanyak 11.812 ton. Sementara itu, sumber sampah yang diolah unit pengolahan kompos tersebut berasal dari tempat pembuangan sampah (TPS) Ungup-Ungup. Di tempat itu, kebanyakan sampah yang dibuang asalnya dari Pasar Baru Kota Probolinggo.
Lebih lanjut, sebesar 70 persen dari total sampah di situ merupakan sampah organik. Sehingga, bahan baku yang dipergunakan untuk memproduksi kompos merupakan bahan baku yang berkualitas. Unit pengolahan kompos di Kota Probolinggo, selanjutnya, telah mampu mengkonversi 600 kg - 1,5 ton sampah menjadi 180 - 450 kg pupuk organik. Selain itu, kini produk kompos telah didiversifikasi menjadi 3 jenis yaitu tabur, granul, dan pelet sehingga memudahkan petani dalam pemanfaatannya.
Pada 2009 program ini direplikasi oleh 26 kabupaten/kota seluruh Indonesia, termasuk Kota Probolinggo, yaitu Tapanuli Selatan, Pekanbaru, Payakumbuh, Tanjung Balai, Jakarta Pusat, Bogor, Bekasi, Banjarnegara, Jepara, Kendal, Klaten, Magelang, Pemalang, Purbalingga, Rembang, Temanggung, Kota Probolinggo, Kab Probolinggo, Semarang, Barru, Gowa, Palopo, Pinrang, Sidrap, Soppeng, dan Bitung.. Sumber Berita
Kota Probolinggo Menjadi Yang Keenam
Baca Selengkapnya...
Tema Artikel:
CSR Lingkungan,
Penerapan 3R
Yayasan Danamon Peduli Luncurkan Unit Pengolahan Sampah Ungup-Ungup
Probolinggo – 16 Maret 2009. Pada hari ini, Yayasan Danamon Peduli dan Pemerintah Kota Probolinggo meluncurkan unit pengolahan sampah pasar menjadi pupuk organik berkualitas tinggi di TPS Ungup-Ungup, Probolinggo. Unit pengolahan kompos ini merupakan unit keenam yang diresmikan setelah Bantul, Sragen, Wonosobo, Bogor dan Grobogan. Unit kompos di Probolinggo ini diserahterimakan oleh Ketua Umum Yayasan Danamon Peduli, Risa Bhinekawati kepada Walikota Probolinggo, HM. Buchori, SH, MSi. Acara peresmian dan serah terima dihadiri oleh Pimpinan Danamon Simpan Pinjam wilayah Jawa Timur Bagian Timur dan Selatan, Andi Joeffen serta Muspida lingkungan Kotamadya Probolinggo.
Risa menyatakan bahwa program kompos ini merupakan bagian dari program utama yang dijalankan oleh Yayasan Danamon Peduli yaitu “Pasarku Bersih Sehat Sejahtera” yang bertujuan merevitalisasi pasar tradisional. Program ini selain dapat meningkatkan kondisi kebersihan dan kesehatan di lingkungan pasar tradisional secara sistematis, juga dapat membantu masyarakat membangun ketahanan pangan nasional berbasiskan pertanian organik. Sejalan dengan pernyataan Risa Bhinekawati, Pimpinan Danamon Simpan Pinjam Jawa Timur bagian Timur dan Selatan, Andi Joeffen dalam pidatonya mengemukakan harapannya bahwa program ini dapat menjadi titik awal bagi bangkitnya pasar tradisional dan ketahanan pangan berbasiskan pertanian organik di Kota Probolinggo khususnya, dan di seluruh tanah air.
Kepedulian Danamon terhadap komunitas pasar tradisional tidak terlepas dari keberadaan 800 dari lebih 1.000 cabang Bank Danamon di seluruh Indonesia berada di pasar-pasar tradisional. Oleh sebab itu, eksistensi pasar tradisional erat hubungannya dengan eksistensi Danamon. Sebagian besar lahan (62,47%) di Kota Probolinggo, merupakan lahan pertanian. Dominasi lahan pertanian ini menuntut ketersediaan pupuk yang tinggi untuk pengelolaan pertanian. Berdasarkan data statistik, kebutuhan pupuk untuk kegiatan pertanian di Kota Probolinggo pada tahun 2008 mencapai 2.953 ton. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Probolinggo, Ir. Budi Krisyanto, M.Si menyampaikan bahwa jika seluruh petani di Kota Probolinggo menggunakan pupuk organik dan berdasarkan lahan pertanian yang ada, maka akan dibutuhkan pupuk organik sebanyak 11.812 ton.
Sumber sampah yang diolah unit pengolahan kompos TPS Ungup-Ungup adalah sampah Pasar Baru Kota Probolinggo, dimana sebesar 70 % dari total sampah merupakan sampah organik. Sehingga, bahan baku yang dipergunakan untuk memproduksi kompos merupakan bahan baku yang berkualitas. Unit pengolahan kompos di Kota Probolinggo, telah mampu mengkonversi 600 kg - 1½ ton sampah menjadi 180 - 450 kg pupuk organik. Selain itu saat ini produk kompos telah didiversifikasi menjadi 3 jenis yaitu tabur, granul dan pelet sehingga memudahkan petani dalam pemanfaatannya. Pada 2 Maret 2009, telah dilakukan uji laboratorium terhadap produk unit pengolahan kompos Probolinggo di Laboratorium Bioteknologi, Bogor dan hasilnya kandungan yang ada didalam kompos telah memenuhi standar (Standar Nasional Indonesia) SNI.
Dengan demikian, fasilitas pengolahan pupuk organik di Probolinggo ini tentu dapat membantu pemerintah Kota Probolinggo mengembangkan pertanian organik di Kota Probolinggo dan sekitarnya. Pemerintah Kota Probolinggo mengajukan permintaan kepada Danamon Peduli untuk membangun fasilitas ini pada bulan Oktober, 2008 dan pembangunan fasilitas rumah unit kompos ini diselesaikan pada bulan November 2008. Proses program ini dapat berjalan lancar berkat komitmen yang tinggi dan kerjasama yang baik dari pihak pemerintah Kota Probolinggo. Total donasi yang diberikan oleh Yayasan Danamon Peduli kepada Pemerintah Kota Probolinggo untuk program ini mencapai Rp.104.400.700,00,-. Bentuk donasi mencakup pembangunan rumah kompos, penyediaan mesin kompos, pelatihan, serta biaya operasional selama satu bulan pertama.
Di tahun 2008 program ini telah berjalan di Bantul, Sragen, Wonosobo, Pacitan dan Grobogan. Pada tahun 2009 program ini direplikasi oleh 26 kabupaten/kotamadya seluruh Indonesia, termasuk Kota Probolinggo, yaitu Tapanuli Selatan, Pekanbaru, Payakumbuh, Tanjung Balai, Jakarta Pusat, Bogor, Bekasi, Banjarnegara, Jepara, Kendal, Klaten, Magelang, Pemalang, Purbalingga, Rembang, Temanggung, Kota Probolinggo, Kab Probolinggo, Semarang, Barru, Gowa, Palopo, Pinrang, Sidrap, Soppeng, dan Bitung. Secara keseluruhan, setiap harinya program ini, yang akan berjalan di 31 kabupaten/kota seluruh Indonesia, berpotensi mengkonversi 60-120 ton sampah menjadi 24-48 ton pupuk organik.
Di tengah kemelut langkanya pupuk kimia di pasaran dan maraknya persoalan lahan kritis di Indonesia, program ini tentu akan menumbuhkan harapan bagi para petani di Indonesia. Selain harganya terjangkau, pupuk organik juga akan menyehatkan kembali kondisi lahan pertanian di Indonesia. Sesungguhnya, jika kita ingin kembali pada pertanian organik, bahan baku pupuk organik tersedia dalam jumlah yang melimpah disekitar kita, diantaranya yang berasal dari pasar-pasar tradisional. Jika dikelola dengan baik, limbah organik dapat memecahkan masalah kelangkaan pupuk.
Adapun tujuan strategis dan indikator keberhasilan yang hendak dicapai dari program ini adalah :
Program ini akan berhasil dan berkesinambungan, yang diukur dari:
- Terjadinya reduksi sampah yang dibuang ke TPA
- Tercapainya titik impas pada pengelolaan unit kompos
- Pemasaran sudah menjangkau masyarakat umum dan Pemda
- Adanya rencana replikasi di pasar atau komunitas secara swadaya atau APBD
- Hasil analisa laboratorium sudah memenuhi standar nasional industri (SNI)
- Pemda sudah memiliki Demplot yang menggunakan kompos sampah pasar untuk memotivasi dan membantu perubahan
- perilaku petani ke arah pertanian organik.
- Pemisahaan sampah sudah dilakukan dari tingkat pedagang.
- Kerusakan mesin/hambatan lain dapat diatasi sehingga tidak mengganggu produksi
- Pencatatan produksi dan pemasaran dilakukan secara rutin setiap hari.
- Laporan bulanan sudah dikirimkan secara teratur kepada Yayasan Danamon Peduli dan Pimpinan Daerah.
- Komunikasi dengan Yayasan Danamon Peduli sudah dilakukan melalui email.
- Program ini sudah masuk rencana strategis Pemda, sehingga pembelian pupuk maupun replikasi program sudah dianggarkan di APBD.
- Penanggungjawab program maupun operator di lapangan mempunyai kemampuan yang dibutuhkan untuk menjalankan program ini secara berhasil dan berkesinambungan.
- Pembelajaran atau cerita keberhasilan yang ingin disebarluaskan kepada kabupaten/kota lainnya.
Tema Artikel:
CSR Lingkungan
Rumah Kompos Kota Probolinggo Resmi Beroperasi
Rumah Kompos yang berada di Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo resmi beraperasi, Senin (16/3). Rumah kompos senilai Rp 100 juta tersebut setiap harinya diperkirakan mengolah 500 hingga 700 sampah pasar di kota Probolinggo untuk dijadikan kompos. Ahmad Riyono, Kepala UPT Pengolahan Limbah dan Sampah, Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup Kota Probolinggo mengatakan, keberadaan unit pengolahan sampah pasar ini setidaknya akan mengurangi jumlah sampah yang dikirimkan ke TPA Kota Probolinggo di Kecamatan Mayangan. Produksi sampah di Kota Probolinggo setiap harinya kurang lebih lima ton. Dua ton diantaranya adalah sampah pasar.
Dalam uji coba pada Februari lalu, kata dia, pihaknya telah mengolah delapan ton sampah pasar dan 12 ton sampah pokmas (kelompok masyarakat). Dari jumlah tersebut, pihaknya telah menghasilkan 9,5 ton kompos. “Kompos ini rencananya akan didistribusikan ke kios bunga serta untuk kebutuhan DKLH,” katanya. Proses composting ini, lanjut dia, ada beberapa tahap. Setiap sampah pasar yang masuk akan dipilah menjadi dua yakni organik dan non organik. Untuk sampah organik akan diolah menjadi kompos. Sedangkan untuk yang nonorganik, akan didaur ulang. “Sedangkan untuk sampah pokmas, sudah terpilah sendiri. Tinggal diolah menjadi kompos atau didaur ulang saja,” katanya. Kompos itu sendiri, kata dia, baru bisa digunakan setelah tiga minggu.
Keberadaan unit pengolah sampah pasar ini merupakan kerjasama antara Pemerintah Kota Probolinggo dengan Yayasan Danamon Peduli. Beberapa peralatan yang ada di dalam unit poengolahan limbah pasar tersebut anatara lain, mesin pencacah, mesin pengayak, mesin jahit karung serta mesin press plastik. Unit pengolah sampah ini melengkapi unit pengolah sampah lain di TPA Mayangan. Hanya, jika dibandingkan dengan unit composting di TPA Mayangan, unit composting di Kanigaran ini lebih kecil. Di TPA Mayangan, setiap harinya jumlah sampah yang diolah kurang lebih dua hingga tiga ton. Sumber Berita
Tema Artikel:
Pemanfaatan Sampah
Walikota Membuka Sosialisasi Program Pasar Berseri
Kementerian Negara Lingkungan Hidup cq Asisten Deputi Pemberdayaan Masyarakat Perkotaan pada Deputi Komunikasi Lingkungan dan pemberdayaan Masyarakat bekerja sama dengan Badan Lingkungan Hidup Kota Probolinggo Jawa Timur, pada tanggal 24 November 2008 menyelengarakan Lokakarya Peningkatan Peran Masyarakat Perkotaan Dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup melalui Program Pasar Berseri, di Kawasan perkotaan yang melibatkan seluruh pelaku pasar ( pengelola pasar, paguyuban pasar dan pedagang pasar) yang diikuti 50 peserta. Adapun maksud dan tujuan lokakarya Sosialisasi Pasar Berseri adalah mohon bantuan kepada hadirin untuk memberi masukan, kritikan, saran guna penyempurnaan buku panduan tersebut.
Lokakarya tersebut Pasar Berseri dibuka oleh Walikota Probolinggo Bapak H.M Buchori, SH, M.Si. dalam sambutannya, beliau menyambut baik tentang Sosialisasi Program Pasar Berseri yang diselenggarakan di Probolinggo ini, Pasar harus dikelola dengan baik sesuai tata ruang, setengah gagal apabila pasar hanya dikelola setengah-setengah. Dengan munculnya Mall di Probolinggo, persaingan pasar semakin sengit, sehingga diperlukan pemikiran bagaimana untuk bisa menarik konsumen agar lebih tertarik pada pasar tradisional. Dalam menanggapi maraknya preman, di Probolinggo khususnya di Pasar tidak ada ganggun dari preman (aman dari Preman).
Dalam Sosialisasi Pasar Berseri ini Asdep Urusan Pemberdayaan Masyarakat perkotan dalam sambutanya mengatakan bahwa kegiatan ini adalah sebagai tindak lanju MoU antara Kementerian Negara Lingkungan Hidup dengan Asosiasi Pengelola Pasar Indonesia (Asparindo) tentang Peningkatan Peran Asosiasi Pengelolaan Pasar Indonesia dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup. Adapun kerjasama ini bertujuan anatra lain:1). Mendorong kebijakan yang berpihak kepada pengelola pasar tradisional yang ramah lingkungan, 2). Melaksanakan program pengelolan sampah yang benar dan berorientasi pada kelestarian lingkungan di pasar-pasat tradisional seluruh Indonesia, 3). Menanamkan pengertian, bahwa kepentingan menjaga dan memelihara lingkungan merupakan suatu keharusan yang patut dilakukan dan melibatkan seluruh pelaku pasar, 4). Mendorong pelaku pasar untuk mengusahakan teknologi tepat guna yang akrab lingkungan dalam manajemen lingkungan pasar, 5). Dan memberikan pemahaman dan keterampilan untuk melakukan usaha pengelolaan lingkungan di Pasar Tradisional.
Dalam sesi selanjutnya Lokakarya tersebut secara panel dilanjutkan oleh Kepala Badan Lingkungan hidup Kota Probolinggo Drs. Endro Suroso, M.Si. tentang Kebijakan Pengelolaan Lingkungan Pasar Tradisional di Probolinggo, dalam paparannya diantara mengatakan secara realita Pasar tradisional berjumlah 13.450 pasar, 12,6 juta pedagang, yang mempunyai aset 65 triliun, diharapkan mampu bertahan terhadap serbuan pasar modern, ini yang merupakan Peluang dan Tantangan untuk terus dikembangkan. Sedangkan Kepala Dinas Pengelolan Keuangan Kota Probolinggo Drs. Basuki tentang Permasalahan dan Tantangan Pasar Tradisonal Kota Probolinggo,kedepan keberadaan pasar se kota Probolinggo perlu perbaikan sarana dan prasarana khususnya Pasar baru sebagai Pasar Sentral Tradisional perlu adanya renovasi bangunan secara menyeluruh, yang dapat memberikan ruang bagi para pedagang, ruang parkir dan ruang bongkar muat.
Kemenetrian Negara Lingkungan Hidup dalam mensosialisakan Program Pasar Berseri, isinya mencakup empat Bab, Bab I Pendahuluan: memuat tentang latar Belakan, Ruang Lingkup, Maksud dan Tujuan, Manfaat Program. Bab II Pasar Tradisional: memuat tentang Pasar Tradisional, Pasar Tradisional saat sekarang, Peluang dan Pengembangan pasar Tradisional, Kendala dan Tantangan. Bab III Program Pasar Berseri: memuat tentang Pasar Berseri, Pengembangan Kebijakan Pasar Berseri, Pengembangan Forum Pelaku Pasar Berbasis Lingkungan, Pengembangan Jejaring Kemitraan, Pengelolaan dan Pengembangan Sarana dan Prasarana Pendukung. Bab IV. Mekanisme Program dan Kriteria Pasar Berseri: memuat tentang Mekanisme Program Pasar Berseri, dan Kriteria Pasar Berseri.yang kemudian dilanjutkan tanya jawab. Sumber Berita
Tema Artikel:
Kegiatan Inovatif,
Pasar Berseri
Tinggi, Biaya Kelola Sampah
Pada 7 Mei 2008, UU No 18/2008 tentang Pengelolaan Sampah disahkan. Regulasi tersebut mengamanatkan wewenang pengelolaan sampah kepada pemerintah, pemerintah provinsi, dan pemda. Konsekuensinya, biaya pengelolaan sampah menjadi tanggungan pemerintah atau pemda yang dialokasikan dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) serta APBD (pasal 24). Tak bisa dimungkiri, biaya pengelolaan sampah memakan porsi besar dalam alokasi anggaran lingkungan hidup. Dalam perubahan APBD kabupaten-kota 2007, daerah menganggarkan Rp 2 miliar-Rp 3 miliar. Kota Probolinggo bahkan mengalokasikan Rp 6 miliar.
Besarnya anggaran pengelolaan sampah disebabkan banyaknya daerah yang fokus pada pembangunan TPA sampah baru dengan perbaikan sarana-prasaran. Daerah mulai mengganti sistem pembuangan sampah dari sistem terbuka (open dumpling) menjadi tertutup (sanitary lanfill). Perubahan TPA sampah di banyak daerah tersebut telah sesuai UU 18/2008. Dalam jangka setahun sejak UU itu diberlakukan, daerah diwajibkan memiliki tempat pemprosesan sampah tertutup. Dan dalam lima tahun sudah harus melakukan penutupan tempat pemrosesan akhir sampah yang terbuka.
Di daerah juga mulai timbul paradigma baru pengelolaan sampah. TPA yang dulu merupakan tempat memusnahkan sampah diubah menjadi tempat pemilahan akhir sampah dan daur ulang sampah. Bahkan, beberapa TPA mulai mengolah sampah plastik menjadi biji plastik. Pemilahan sampah juga melibatkan masyarakat. Misalnya, di Kota Surabaya yang telah memiliki 19 kelompok masyarakat (pokmas) sampai dengan akhir 2007 dan 14 pokmas di Kota Probolinggo. Sumber Berita
Tema Artikel:
Pengelolaan Sampah,
TPA Kota Probolinggo
Pemkot Probolinggo Gunakan Teknologi Accelerated Revolver Windrow Composting
Saat ini, hampir setiap kota di Indonesia, termasuk Kota Probolinggo, menghadapi permasalahan sampah yang cukup pelik seperti pencemaran lingkungan akibat pembakaran dan penumpukan sampah yang tidak terkendali, pembuangan sampah ke sungai sehingga berakibat banjir, sulitnya mencari lahan pembuangan sampah dan sebagainya. Dengan jumlah penduduk sekitar 183.661 jiwa, Kota Probolinggo telah menghasilkan sampah sekitar 550 meter kubik sampah per hari. Pada waktu yang bersamaan, saat ini lahan-lahan pertanian di pinggiran Kota Probolinggo sangat membutuhkan pupuk organik untuk memperbaiki kesuburan tanahnya yang kian berkurang karena penggunaan pupuk kimia yang tidak seimbang. "Untuk mengatasi dua permasalahan yang harus ditangani sekaligus tersebut yaitu keterbatasan penyediaan pupuk organik bagi pertanian padi dan permasalahan persampahan, kota Probolinggo tengah menerapkan teknologi Accelerated Revolver Windrow Composting (ARWC)", demikian dikatakan Sri Wahyono, Peneliti Lingkungan BPPT (12/9).
ARWC adalah sistem fermentasi sampah organik yang dilakukan secara aerobik dengan cara ditumpuk memanjang (windrow) dan digulirkan (revolver) secara reguler sehingga berubah menjadi materi relatif stabil berupa pupuk organik kompos dalam waktu yang dipercepat (accelerated) dengan bantuan mikroba aerobik alami (native microbe). Melalui penerapan teknologi ARWC, sampah kota yang sebagian besar komposisinya (70%) adalah sampah organik fermentasi secara biologis menjadi pupuk organik yang bermutu tinggi, yakni bebas dari bibit gulma, higinis (bebas bakteri patogen) dan mengandung unsur hara yang tinggi, lanjut Sri Wahyono.
Menurut Sri Wahyono, ARWC merupakan teknologi pengomposan yang telah dikembangkan oleh Pusat Teknologi Lingkungan BPPT, yang kegiatannya didanai oleh Kementerian Negara Riset dan Teknologi (Program Difusi Teknologi Bidang Ketahanan Pangan Tahun 2008) dengan nilai sebesar 350 juta rupiah yang dikerjakan mulai Februari 2008 lalu. Ia mengungkapkan, "Sebelumnya, tanah-tanah persawahan di Probolinggo mengalami pengerasan karena penggunaan pupuk kimia. Adanya kompos hasil penerapan teknologi ARCW akhirnya dapat memenuhi kebutuhan pupuk organik yang berkualitas. Selain harganya yang murah dan kompos tersebut mudah didapat karena dibuat sendiri di daerahnya. Dengan teknologi ARWC, permasalahan sampah di kota dan permasalahan penyediaan pupuk organik yang berkualitas di daerah pertanian padi diharapkan dapat terbantu. Kota menjadi bersih. Ketersedian pupuk organik terjamin, lahan persawahan padi menjadi subur. Apabila kesuburan lahan pertanian terjaga maka ketahanan pangan akan meningkat".
Sampah organik kota yang diolah tersebut berupa sisa-sisa biomassa produk pertanian yang berasal dari sentra-sentra pertanian di desa yang dikirim ke kota, seperti sayur-mayur, palawija, buah-buahan dan sebagainya. Sampah yang telah diolah menjadi pupuk organik yang diproduksi, setelah diayak dan dikemas dapat langsung dipasarkan atau digudangkan terlebih dahulu. Sasaran pengguna utama dari pupuk yang diproduksi adalah petani padi yang merupakan tulang punggung sektor pertanian di Probolinggo. Untuk saat ini, karena produksi kompos masih terbatas yaitu hanya 3 ton/minggu padahal kapasitas alat bisa mencapai 5 ton/minggu, maka pupuk organik kompos yang diproduksi tersebut tidak dipasarkan keluar wilayah Probolinggo, jadi sementara hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri dalam rangka menjamin keberlanjutan produksi pertanian padi di daerah tersebut.
Prospek atau peluang pemasaran produk pupuk organik saat ini semakin terbuka lebar. Hal ini antara lain dipicu oleh sulit didapatkannya dan mahalnya pupuk kimia serta kesadaran akan pentingnya pupuk organik bagi kesuburan tanah pertanian yang semakin miskin hara. Menurut Sri Wahyono, para konsumen pupuk organik kompos di Kota Probolinggo adalah para petani padi dengan luas persawahan mencapai 2.156 Ha, para petani/pekebun tanaman palawija, sayur mayur, buah-buahan, tebu, jambu mete, dsb. yang luas lahannya mencapai 783 Ha, para petambak udang/bandeng untuk plankton enrichment dengan luas tambak 104 Ha, para pelaksana program rehabilitasi lahan kritis dan pembibitan tanaman keras, para retailer tananam hias yang tersebar di pinggir-pinggir jalan perkotaan dan kios-kios sarana, peralatan dan obat-obatan pertanian, para pembudidaya tanaman hias bernilai tinggi seperti aglonema, anthurium, euphorbia, anggrek, dsb dan Dinas Pertamanan dan para developer pemukiman untuk lanskaping.
Karakteristik teknologi ARWC adalah sederhana, mudah, murah dan ramah lingkungan sehingga gampang direplikasi dan dioperasikan di manapun tempatnya di Indonesia. Operasinya dapat dilakukan baik secara manual maupun mekanis tergantung dari situasi dan kondisinya. Prosesnya tidak berbau dan berlangsung cepat antara 4 sampai 6 minggu. Dengan perguliran yang dilakukan dapat terjamin estetika dan kemudahan prosesnya. Sedangkan produk yang dihasilkannya adalah kompos yang bermutu tinggi, yakni kompos yang bebas dari bibit gulma, higinis (bebas bakteri patogen) dan mengandung unsur hara yang tinggi. Teknologi ARWC telah teruji kehandalannya sehingga telah diaplikasikan di beberapa tempat di Indonesia dengan bahan baku yang beragam jenisnya mulai dari limbah pertanian, limbah industri, hingga sampah kota. Bahkan, teknologi tersebut telah direkomendasikan oleh KLH dan World Bank untuk diterapkan di seluruh Indonesia, ungkap Sri Wahyono. Sumber Berita
Tema Artikel:
Pemanfaatan Sampah
Ibu Senima Raih Pelopor Lingkungan
Kota Probolinggo dapat satu kebanggaan dalam lomba nasional Sampoerna Kotaku Hijau 2008. Dari tiga kategori yang dilombakan pencapaiannya sementara ini masih sebatas jadi nominasi lima besar untuk kategori Taman Lingkungan. Tapi, warga Kota Probolinggo Senima berhasil meraih award sebagai Pelopor Lingkungan. Sehari-harinya, wanita yang biasa disapa Bu Ima itu memang menjadi Ketua Pokmas. Dia menggalang ibu-ibu di sekitarnya untuk mengumpulkan sampah daun-daun untuk selanjutnya dijadikan kompos. Aktivitas Bu Ima itu ternyata terpantau oleh juri Sampoerna Kotaku Hijau 2008. Hingga pada Minggu (10/8) malam Bu Ima mendapatkan award itu bersamaan dengan pengumuman dan penyerahan hadiah pemenang lomba nasional Sampoerna Kotaku Hijau 2008 di lapangan outbond TMII Jakarta.
Diketahui, tiga kategori dalam lomba nasional ini ialah hijau lingkungan, bersih lingkungan, dan taman lingkungan. Pada 18 Juni lalu, tim juri telah melakukan penilaian di Kota Probolinggo. Selanjutnya, para ketua RW yang daerahnya terpilih sebagai titik pantau, diundang langsung dalam acara Minggu malam itu untuk mengetahui langsung siapa-siapa pemenangnya. Hasilnya Kota Probolinggo cukup masuk nominasi lima besar kategori Taman Lingkungan. Ini taman lingkungan yang ada di RW VII Kelurahan Sumbertaman, Kecamatan Wonoasih. "Kita ini bukan tidak berhasil, tapi belum berhasil dan akan berhasil. Kita wujudkan (anugerah Sampoerna Kotaku Hijau) di tahun 2009 untuk disandingkan dengan Adipura dan Adiwiyata," kata Kabag Humas dan Protokol Pemkot Probolinggo Rey Suwigtyo petang kemarin.
Menurutnya, ini baru langkah awal Kota Probolinggo dalam lomba tahunan yang dimulai sejak 2004 itu. "Jadi, Kota Probolinggo termasuk pemain baru. Tapi, pemain baru bisa dikatakan sudah mendekati keberhasilan. Untuk 2009 nanti, akan kita persiapkan lagi secara lebih maksimal," katanya. Walau belum mendapat juara untuk tiga kategori lomba, Kota Probolinggo tetap mendapat kebanggaan di ajang ini. Warga RW VII Kelurahan Sumbertaman Wonoasih itu berhasil meraih penghargaan sebagai Pelopor Lingkungan. Mantan Kepala DKLH yang kini menjabat Kepala Bappeda Budi Krisyanto menyatakan lomba ini menjadi pengalaman berharga bagi Kota Probolinggo. Ia berharap, ke depan nanti Sampoerna bisa menginformasikan lebih awal tentang kriteria.
Di luar itu, menurut Budi, para ketua RW yang ikut diundang ke Jakarta telah mendapat banyak pengalaman. "Mereka bertemu dengan RW-RW dari daerah lain. Jadi bisa berbagi informasi, berbagi pengalaman. Banyak manfaatknya, jadi tidak terlalu kecewa. Tetap semangat," kata Budi. Wali Kota Buchori yang ikut mendampingi rombongan dari Kota Probolinggo di acara itu juga tetap memberi motivasi walau belum mendapat predikat juara. "Pak wali tetap konsen memberikan dorongan, agar tidak patah semangat," kata Budi. Sumber Berita
Tema Artikel:
Pelopor Lingkungan,
Prestasi
Keberhasilan Penghijauan Pada Lahan Marginal Melalui Kegiatan Gerhan
Gerhan (Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan) adalah salah satu upaya rehabilitasi hutan dan lahan yang penyelenggaraannya dilaksanakan secara terpadu dan terkoordinasi yang sangat stategis bagi kepentingan nasional, sehingga kegiatan tersebut diarahkan sebagai gerakan berskala nasional yang terencana dan terpadu, melibatkan berbagai pihak terkait, baik pemerintah, swasta dan masyarakat luas melalui suatu perencanaan, pelaksanaan serta pemantauan dan evaluasi yang efektif dan efisien.
Bumiku Semakin Panas
Hasil penelitian mengenai peningkatan suhu bumi disebabkan oleh efek rumah kaca. Dampak negative dari peningkatan suhu bumi adalah terjadinya perubahan iklim global, musnahnya keanekaragaman hayati meningkatnya frekuensi dan intensitas hujan, topan dan banjir. Disamping itu, dapat meningkatkan frekuensi kebakaran hutan serta menyebarnya berbagai penyakit tropis. Terjadinya efek rumah kaca terutama karena pesatnya pertumbuhan industry yang menggunakan minyak bumi sebagai bahan bakar. Residu dan pembakaran minyak bumi menghasilkan emisi gas karbondioksida, metana dan dinitroksida yang membahayakan tatanan ekologi bumi. Upaya penanggulangan efek rumah kaca yang dapat dilakukan secara mudah melalui penanaman dan pemeliharaan pohon dalam jumlah besar. Hal ini karena pohon mampu menyerap karbondioksida, memecahnya melalui proses fotosintesis, dan menyimpan karbon dalam kayunya, serta menghasilkan oksigen untuk kelangsungan hidup manusia dan makhluk lainnya.
Tanggungjawab Kita Semua
Dalam merealisasikan penghijauan yang merupakan kegiatan sosial, diperlukan partisipasi masyarakat, swasta, pemerintah, pada kenyataannya partisipasi masyarakat masih rendah, sehingga diperlukan kegiatan-kegiatan yang bisa meningkatkan partisipasi masyarakat.
Pemanfaatan lahan pekarangan yang kurang optimal, menjadi lahan yang produktif melalui penananam hutan rakyat, selain dapat mengurangi polusi udara juga bernilai ekonomis, upaya tersebut dilaksanakan dengan penanaman tanaman kayu produktif serta pemanfaatan lahan di bawah tegakan dengan tanaman semusim berupa Toga.
Hutan mangrove merupakan tipe hutan tropika yang khas yang tumbuh di sepanjang pantai atau muara sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Pantai di kawasan Kota Probolinggo termasuk pantai yang landai, tingkat kelandaian ini menyebabkan jarak antara titik pasang tertinggi dan titik pasang terendah cukup lebar, dapat mencapai 1 – 2 km.
Realitas dari tanggungjawab ini, warga Kota Probolinggo ikut berkontribusi melalui penghijauan kota yang diimplimentasikan dengan diadakan gerakan penanaman pohon baik secara individu maupun oleh beberapa elemen masyarakat serta dinas/instansi di lingkup Pemerintah Kota Probolinggo.
Penghijauan Kota Hukumnya Wajib
Kegiatan pembangunan yang semakin meningkat mengandung resiko pencemaran dan perusakan lingkungan hidup sehingga menjadi beban social, yang pada akhirnya baik pihak masyarakat maupun pemerintah yang harus menanggung akibat dan biaya pemulihannya. Guna mengurangi dampak negative dari kegiatan pembangunan tersebut, maka perlu disusun suatu perencanaan pembangunan berkelanjutan yang terpadu dan berwawasan lingkungan, yang melibatkan semua sektor (instansi) baik pemerintah daerah maupun pusat. Dalam pelaksanaan penghijauan di Kota Probolinggo dilaksanakan melalaui:
Hutan Kota
Pelaksanaan Hutan Kota di laksanakan oleh segenap warga Kota Probolinggo sejak tahun 2005 – 2007 sudah mencapai + 94,62 ha dengan jumlah 37.848 pohon, melalui beberapa bentuk gerakan penanaman pohon yang tersebar di 5 Kecamatan seluruh wilayah Kota Probolinggo, yang antara lain oleh Gerakan Pemuda Anshor Menanam, Nahdlatul Ulama Kota Probolinggo Menanam pohon, Kelompok Tani Peduli Penghijauan serta Sekolah dan Pondok Pesantren Menanam Pohon.
Hutan Rakyat
Pelaksanaan Hutan Rakyat dilaksanakan oleh warga Kota Probolinggo sejak tahun 2004 – 2007 sudah mencapai + 743,58 ha dengan jumlah 297.432 pohon melalui Kelompok Tani Pelaksana Gerakan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (Gerhan). Gerakan ini umumnya memanfaatkan lahan masyarakat yang kurang optimal melalui penanaman pohon produktif yang pada saat umur tertentu, kayunya dapat bernilai ekonomi. Gerakan ini juga melibatkan dengan pihak ketiga (kemitraan) yaitu dengan PT. Kutai Timber Indonesia Tbk. dalam hal pemasaran kayu.
Hutan Mangrove
Pelaksanaan Hutan Mangrove di Kota Probolinggo mulai tahun 2007 sudah mencapai + 100 ha dengan jumlah 120.000 pohon dilaksanakan oleh Kelompok Tani Pelaksana Gerhan , masyarakat serta elemen masyarakat, seperti Siswa dan Pramuka serta Kepeloporan TNI yang peduli terhadap keseimbangan habitat pantai.
Penghijauan Lingkungan
Pelaksanaan Penghijauan Lingkungan mulai tahun 2006-2007 sudah mencapai + 53,46 ha dengan jumlah 21.385 pohon dilaksanakan oleh Dinas/Instansi, Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kota Probolinggo, Dharma Wanita Persatuan, PKK, TNI, Sekolahan, Ormas, Kelompok Tani, Pondok Pesantren dan Masyarakat yang lokasi penanamannya sebagian telah ditentukan oleh Dinas Pertanian Kota Probolinggo.
Partisipasi Masyarakat…! Pertahankan
Peran aktif masyarakat Kota Probolinggo terhadap Penghijauan di Kota Probolinggo sangat baik sekali, sehingga keikutsertaan masyarakat terhadap penghijauan di Kota Probolinggo mempunyai andil yang sangat besar. Mudah-mudahan atas kerja keras dan kerjasama antara Pemerintah Daerah Kota Probolinggo dengan elemen masyarat mempercepat terwujudnya Kota Probolinggo yang sejuk dan berkurangnya polusi udara. Sumber Berita
Tema Artikel:
Penghijauan,
RTH
Probolinggo Kota Terkotor, Itu Masa Lalu...
Keberhasilan Kota Probolinggo meraih Adipura pada 1997, disusul 2007 dan 2008 seperti telah membalik keadaan. Pada periode 1986 hingga awal-awal 1990-an, Kota Probolinggo justru terkenal dengan julukan "menyakitkan": Kota Terkotor. Predikat kota terkotor itu masih terekam kuat hingga kini di benak sebagian warga Kota Probolinggo. Simak saja perbincangan sekumpulan anak muda yang tergabung dalam blog arekprobolinggo.net. Blog ini jadi arena cuap-cuap arek-arek Probolinggo yang sebagian besar kini tinggal di daerah lain, bahkan di negara lain. Suatu saat dalam sebuah perbincangan di blog tersebut mereka membicarakan tentang kondisi kebersihan Kota Probolinggo.
Seseorang berjuluk anaskoe menulis :
Wingi pas aku moleh terakhir, aku geleng2 (kagum) pas aku tas ngelewati lampu merah ketapang sepanjang jalan mlebu kota ndhek kiri dalan ono taman sing terawat, anyar kethok e, yen jare Ibuk ke iku sing ngawe para instansi n sekolahan. OK juga ne gebrakannya pak Wali, padahal aku mbiyen ga percoyo mbok mosok tukang becak dipilih dadi mimpin Kota... ternyata, bener yo yen dipimpin karo arek lokal rasa kepemilikinnya gedhe, aku iso ndhelok perubahan ne probolinggo saiki...
Mbalek nang taman pinggir dalan, aku mikir e waktu iku iki pasti anget2 telek petek seneng mbangun trus males ngerawat e...Eit ternyata tuduhan ku salah sesok e pas aku mlaku2 kate ngolek ketan aku ndhelok onok mobil pemadam sing nyirami taman ndhek alon2 hehehehee... kisinan n kagum! Teruskan Pak Wali kiprah ne sampean mbangun probolinggo, ben ga cuman bromo sing dikenal teko monco negoro tapi probolinggo ne pisan... (Kemarin ketika aku terakhir pulang, aku geleng-geleng kagum saat melintasi lampu merah Ketapang. Sepanjang jalan masuk kota di sisi kiri jalan ada taman yang terawat. Baru rupanya. Kata ibuku, itu dibikin instansi-instansi dan sekolahan. OK juga gebrakannya Pak Wali. Padahal aku dulu nggak percaya, masak tukang becak dipilih mimpin kota. Ternyata benar ya kalau dipimpin arek lokal, rasa kepemilikannya besar. Aku bisa melihat perubahannya Probolinggo sekarang... Kembali ke taman pinggir jalan, aku piki waktu itu pasti ini hangat-hangat tahi ayam, senang membangun terus malas merawat. Eit, ternyata tuduhanku salah. Esoknya waktu aku jalan-jalan hendak mencari ketan, aku lihat ada mobil pemadam yang nyirami taman di alun-alun. He he he...malu dan kagum! Teruskan Pak Wali kiprahnya membangun Probolinggo. Supaya tidak cuma Bromo yang dikenal sampai ke mancanegara, tapi Probolinggo-nya juga...)
Selanjutnya, seseorang berjuluk oka ikut nimbrung. Dia menulis:
Yo wis mugo2 ae cak, probolinggo terusan dipimpin ambe pemimpin sing amanah. Saiki iku sing susah kan nyekel amanah iku.. bener jare sampeyan, sak umur uripku sing jenenge taman iku pasti anget2 telek petek, gak tau awet. Biasane yo cuma digawe pas ono acara opo,kunjungane sopo.. Yen acara n kunjungane rampung, yo wis buyar pisan tamane... (Ya mudah-mudahan saja Cak, Probolinggo terus dipimpin oleh pemimpin yang amanah. Sekarang itu yang susah kan memegang amanah. Benar kata sampeyan. Seumur hidupku yang namanya taman itu pasti hangat-hangat tahi ayam. Tidak pernah awet. Biasanya cuma dibuat ketika ada acara apa begitu, ada kunjungan siapa begitu. Kalau acara kunjungannya selesai, tamannya juga bubar.)
Berikutnya, seorang berjuluk andriku menimpali:
Ha ha ha..ono sing iso upload fotone ga? Aq pingin nontok fotone jaran...mmmmm kuda....nang taman arep mlebu Probolinggo iku (aq ga ngerti dinas endi, tp koyokane apik..).Karo ono sing lucu..patung e nyamuk, sik ono ga nyamuk e? tolong yen ono sing iso upload di gowo nang AP yo..aq pingin nonton (Ha ha ha...ada yang bisa upload fotonya nggak? Aku ingin lihat foto kuda di taman jelang masuk Probolinggo. Aku nggak ngerti dinas mana, tapi kelihatannya bagus. Dan yang lucu patung nyamuk. Masih ada nggak ya nyamuknya. Tolong kalau ada yang bisa upload dibawa ke AP ya, aku pingin lihat...)
Lalu, yang berjuluk inoex135 membenarkan:
Yup probolinggo emang tambah keren cak... aku salut banget keadaane tambah resik n pemandangane penak banget dilihat...(Yup, Probolinggo memang tambah keren, Cak. Aku salut sekali. Keadannya semakin bersih dan pemandangannya sangat enak dilihat.)
Terakhir, yang berjuluk luci menggumam:
He he...jaman th 90 an probolinggo terkenal sebagai "shit town" itu jarene wong wong jogja sing mandu turis turis lho, waduh aku dadi ngenes. mugo mugo ae rek probolinggo berubah citra, trus ndek jaman kuliah poltek malang, biyen aku dipoyoki lek prob kena anugrah kota terkotor, ngenes maneh aku. (He he...Zaman tahun 90-an Probolinggo terkenal sebagai "shit town". Itu kata orang-orang Jogja yang memandu turis lho. Waduh aku jadi prihatin. Semoga saja Rek, Probolinggo berubah citra. Terus waktu zaman kuliah di Poltek Malang dulu aku digojloki bahwa Probolinggo dapat anugerah kota terkotor, prihatin lagi aku.)
Probolinggo mendapat predikat Kota Terkotor memang fakta. Predikat itu diberikan pada 1986 lalu. Pada saat kota ini dipimpin Wali Kota Latief Anwar. Sang wali kota tentu juga tak menginginkan predikat itu. Maka dalam ceritanya, begitu dapat predikat tersebut, semua yang bertanggung jawab terhadap kebersihan kota saat itu langsung diamuk habis-habisan oleh wali kota. Namun, itu cerita masa lalu. Kota Probolinggo terus berbenah. Pada 1997, kota ini sudah membalik keadaan. Ditandai dengan keberhasilan meraih piala Adipura. Tapi, rasa kepemilikan terhadap kebersihan, hijau dan indahnya kota belum menyebar rata. Bau pesing terminal Bayuangga masih terkenal.
Memasuki era 2000-an, pemerintah kota ini setel kenceng melakukan gerakan-gerakan kebersihan. Melalui Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup (DKLH), pemerintah kota mengajak seluruh komponen warganya membenahi kebersihan lingkungan. Setelah sempat macet karena peralihan kekuasaan, pada 2006 program Adipura kembali digeber. Saat itu Adipura digelar bak lomba semata. Kota/kabupaten yang ingin dapat Adipura ya harus mendaftar. Tapi mulai 2008, Adipura bukan lagi sekedar lomba, melainkan kewajiban. "Daftar nggak daftar, semua kota/kabupaten di Indonesia pasti dinilai untuk program Adipura," kata Rey Suwigtyo, Kabid Kemitraan dan Diseminasi DKLH.
Hasil kerja keras pemerintah dan semua komponen masyarakat di Kota Probolinggo mulai menunjukkan hasil. Pada 2006 Kota Probolinggo ibarat sudah ancik-ancik di ajang Adipura. Kota ini meraih poin total 67,09. Adipura belum didapat. Kota ini semakin terpacu. Alokasi anggaran untuk program kebersihan digenjot. Program kebersihan dengan melibatkan semua komponen masyarakat semakin intens digelar. Mulai dari bikin taman di tepi jalan -yang sampai bikin arek-arek dalam komunitas blog arekprobolinggo.net terkesima-, melombakan taman di lingkungan RW, meminiaturkan lomba Adipura untuk tingkat kelurahan, mengajak masyarakat ramai-ramai melakukan penghijauan, bersih-bersih saluran air, dan seterusnya.
Akhirnya, pada 2007, Kota Probolinggo berhasil meraih piala Adipura. Penilaian didasarkan pada kondisi fisik dan non fisik. Pada tahun itu, peraih Adipura harus bisa mengumpulkan poin minimal 71. Sedangkan Kota Probolinggo berhasil mengumpulkan poin akhir 73,44. Keberhasilan itu masih ditambah dengan sukses SMAN 2 Kota Probolinggo meraih piagam Adiwiyata. Ini penghargaan nasional untuk sekolah yang memiliki budaya dan kepedulian lingkungan. Dan 2008 ini, Kota Probolinggo berhasil meraih lagi piala Adipura. Tahun ini peraih Adipura harus mengumpulkan poin minimal 73. Sedangkan Kota Probolinggo dari tiga tahap penilaian (penilaian 1, penilaian 2, dan verifikasi) berhasil meraih poin akhir 74,71.
Dengan raihan nilai tersebut, tahun ini Kota Probolinggo bertengger di posisi ke 8 di antara kota/kabupaten se-Jawa yang meraih Adipura untuk kategori Kota Sedang. Sedangkan di antara kota/kabupaten se-Indonesia peraih Adipura untuk Kota Sedang, Kota Probolinggo berada di posisi ke-13. Di saat bencana alam belakangan kerap menimpa negeri ini -yang di antaranya disebabkan perusakan alam oleh manusia- keberhasilan meraih penghargaan Adipura menjadi prestise tersendiri. Penghargaan ini menjadi ganjaran sekaligus pengingat bahwa masalah kebersihan, masalah lingkungan kini harus semakin serius ditangani. Sebab, semakin lingkungan tak diurus, bahkan dirusak, semakin besar bahaya mengancam di masa depan.
Tapi, kegembiraan meraih Adipura tidak boleh melenakan. Masalah lingkungan tidak boleh jadi satu-satunya hal yang diurusi serius oleh kota ini. Sekretaris DPC PKB Kota Probolinggo yang baru jadi anggota dewan, Abdullah Zabut, mengingatkan hal itu."Warga Kota Probolinggo harus sehat secara dhohir dan batin. Lingkungan bersih harus diimbangi dengan hidup sejahtera. Bagaimana kondisi ekonomi masyarakat bisa meningkat, itu juga harus diseriusi," katanya. Sumber Berita
Tema Artikel:
Adipura - Adiwiyata,
Prestasi
SMAN 2 Dan SMKN 1 Kota Probolinggo Berjaya Dalam Lomba Adiwiyata Nasional
Bagi SMAN 2, tahun ini merupakan keberhasilan kali kedua meraih penghargaan Adiwiyata. Sebab itu, SMAN 2 berhak atas piagam dan piala Adiwiyata yang diserahkan di Istana Negara Jakarta, tepat di momen hari lingkungan hidup, 5 Juni lalu. Sedangkan SMKN 1 baru tahun ini mendapat piagam Adiwiyata.Dua piagam Adiwiyata yang berhasil diraih kini terpajang di dinding ruangan Kepala Sekolah SMAN 2 Suradji Chabir. Piagam pertama ditandatangani Deputi Bidang Komunikasi Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat Drs Sudariyono, dan Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Prof Dr Suyanto, Ph.D. Sedangkan piagam yang diraih tahun ini ditandatangani oleh Meneg Lingkungan Hidup Ir Rachmat Witoelar dan Menteri Pendidikan Nasional Prof Dr Bambang Sudibyo, MBA.
Di samping dua piagam tersebut, terpajang juga foto-foto Suradji dan guru pembina program Adiwiyata Endang Sulistyowati, bersama Presiden RI Susilo Bambang Yudhyono. Itu foto saat keduanya menerima piagam calon sekolah Adiwiyata tahun lalu dan foto saat menerima piala Adiwiyata tahun ini. Bangga, Tentu saja perasaan ini dimiliki seluruh warga SMAN 2. Penghargaan Adiwiyata diberikan kepada sekolah-sekolah yang memiliki kepedulian dan budaya lingkungan. "Pada tahun kedua ini, kami memang lebih siap mengikuti lomba Adiwiyata ini. Berbeda dengan tahun pertama," tutur Chabir didampingi Agus, salah satu guru SMAN 2 saat ditemui dua hari lalu.
Dengan prestasi ini, SMAN 2 bahkan semakin yakin untuk menularkan wawasan mereka tentang Adiwiyata pada sekolah lain. Dengan demikian, sekolah lain akan terpacu untuk mengiku program nasional ini. "Kami siap menerima studi banding dari sekolah manapun," tutur Chabir. Sampai kini, baru dua sekolah di kota yang mau melakukan studi banding soal Adiwiyata ke SMAN 2. Keduanya yaitu, SMKN 1 dan SMAN 3. Sementara sekolah lain belum ada. Khususnya yang datang lengkap, murid, guru dan kepala sekolah.Justru beberapa sekolah dari kabupaten sudah datang. Di antaranya, SMA Taruna Leces, SMAN Dringu, SMPN 1 Dringu, SMPN Sumberasih, SMP Bhakti Pertiwi dan SMA Tunas Luhur, Paiton.
Kondisi ini sempat membuat Chabir berpikir. Apa gerangan yang membuat sekolah di kota tidak mau melakukan studi banding ke SMAN 2? Padahal, Dinas Pendidikan kota menganjurkan sekolah-sekolah untuk studi banding soal Adiwiyata ke SMAN 2. Selain itu, sekolah ini juga tengah menyiapkan beragam program untuk mengikuti lomba Adiwiyata 2009. Tentu saja program tersebut harus berbeda dengan program dua tahun sebelumnya. Sementara program dua tahun yang lalu, harus tetap dilaksanakan. Jika berhasil mempertahankan prestasi pada tahun 2009 dan 2010, maka SMAN 2 akan mendapat piala Adiwiyata mandiri pada 2010.
Sebuah perjuangan yang tidak mudah memang. Namun, SMAN 2 seolah siap menghadapi perjuangan itu. Salah satu buktinya yaitu, kini sekolah ini semakin fokus pada perubahan perilaku siswanya. Caranya, membentuk tim Adiwiyata untuk kelas X. Sebelumnya, tim Adiwiyata hanya dibentuk untuk kelas XI dan XII. Pembentukan tim ini diharapkan dapat mempercepat transfer perilaku yang peduli dan berbudaya lingkungan pada siswa kelas X. Artinya, perubahan perilaku cepat terlihat pada siswa baru itu. Bagi SMAN 2, perubahan perilaku tetap menjadi prioritas dalam program ini. "Mereka kan berasal dari beragam SMP dan latar belakang. Jadi, butuh energi dan waktu untuk mengubah perilaku mereka," terang Chabir.
Selain itu, disiapkan program yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Sebenarnya sudah ada program serupa di SMAN 2. Kini, program tersebut akan dikembangkan melalui pembuatan kompos bersama warga sekitar. Tidak tanggung-tanggung, SMAN 2 berencana membeli mesin pembuat kompos dengan skala kecil. Harapannya, program ini membantu pengelolaan sampah dari warga sekitar. Lalu bagaimana dengan SMKN 1 setelah menerima penghargaan sebagai sekolah calon Adiwiyata? Kepala Sekolah SMKN 1 Dwi Sumedi Noto Projo terlihat sibuk mengawasi kegiatan bersih-bersih di halaman depan sekolah itu.
Begitu Radar Bromo datang, Sumedi pun menggambarkan penerapan program Adiwiyata di sekolahnya. Dia lantas berkeliling ke lokasi sekolah bersama Radar Bromo. Ada pot bunga yang dijejer di sebuah papan yang dibuat bersusun. Pot-pot itu ditempatkan di depan hampir semua ruang kelas. Sementara di pojok-pojok sekolah, ada tiga tempat sampah sekaligus. Ada tempat sampah organik, tempat sampah kertas dan tempat sampah plastik. Di depan tiga tempat sampah ini, ada komposter untuk mengelola sampah organik menjadi kompos.
Saat berkeliling dengan Radar Bromo, Sumedi sempat melihat sampah kertas di lantai sekolah. Dia lantas memungutnya dan memasukkannya ke tempat sampah kertas. Saat menunjukkan komposter pada Radar Bromo, dia menemukan tutup botol dari plastik di dalamnya. Sumedi pun memungutnya dan memasukkan ke tempat sampah untuk plastik. Bukan sekedar perilaku, inilah salah satu cara yang ditempuh Sumedi untuk mengubah perilaku warga SMKN 1. Bukan melalui paksaan atau instruksi, melainkan dengan cara memberi contoh.
Dengan contoh tersebut, diharapkan nurani semua warga sekolah tersentuh dan tergerak untuk meniru. Karena intruksi atau paksaan pada perilaku dinilainya hanya akan bertaha sebentar. Selanjutnya, akan luntur dengan sendirinya. "Jadi walau sudah menerima penghargaan, bagi kami perilaku tetap tidak bisa dipaksakan. Karena itu, kami tetap berusaha menjadi contoh bagi warga sekolah ini," terang Sumedi. Cara ini bahkan sudah diterapkannya sebelum mengikuti lomba Adiwiyata. Kini, sikap itu tetap dipilih oleh Sumedi untuk mengubah perilaku siswa menjadi sadar lingkungan. "Jika ingin berhasil, ya harus diawali oleh kita-kita sendiri," katanya.
Sementara untuk mengikuti lomba Adiwiyata tahun berikutnya, SMKN 1 hanya berupaya untuk mengoptimalkan apa yang sudah dilakukan selama ini. Diantaranya, penghijauan bersama masyarakat dan bersih-bersih lingkungan oleh siswa. Cara ini memberikan tantangan tersendiri, karena tidak semua warga sadar dan mau ikut serta. Bahkan saat siswa bersih-bersih, ada saja warga yang malah membuat kotoran atau sampah lagi. "Memang di sinilah tantangannya saat terjun di tengah-tengah masyarakat dan melakukan kegiatan lingkungan. Tidak semua orang langsung peduli. Ini yang dipahami siswa," tegasnya. Sumber Berita
Tema Artikel:
Adipura - Adiwiyata,
Prestasi
Subscribe to:
Posts (Atom)











