BLH Kota Probolinggo    "SI JUPPE"   S emangat,  I novatif,  J u jur,  P rofesional,  P e duli

Menuju Adiwiyata dan Adipura

Kota Probolinggo selalu berusaha mengikuti perkembangan dengan memaksimalkan potensi yang ada. Penciptaan iklim inovasi kreatifitas dan jiwa bersaing menjadi motto yang sudah melekat di hati seluruh warga kota Probolinggo. Nampaknya hal ini yang memacu kita untuk berusaha tampil yang terbaik dalam segala kompetisi. Berdasarkan kondisi itu, warga kota Probolinggo berkomitmen untuk selalu meningkatkan mutu kebersihan kota Probolinggo, salah satunya di bidang lingkungan yaitu meningkatkan sekolah-sekolah di kota Probolinggo menjadi Sekolah Adiwiyata tingkat nasional dan menjadikan kota Probolinggo menjadi Kota Adipura tingkat nasional. Adapun kriteria penilaian Adiwiyata Mandiri menitik beratkan pada pelaksanaan dan pengembangan Kurikulum Berbasis Lingkungan,yaitu mencapai 40%, bidang Kebijakan Berbasis Lingkungan 30%, bidang Pengembangan berbasis Partisipatif 20% dan Pengelolaan Sarana Pendukung Sekolah berbasis lingkungan hanya 10%.

Dengan melihat kriteria tersebut tentunya kita juga fokus pada sistem dan pola pengajaran Pendidikan Lingkungan Hidup di kota Probolinggo. Konsep Adiwiyata adalah 3H ( Head, Hart, Hand ) yaitu pemahaman, kesadaran, dan yang paling penting adalah perbuatan. Dari konsep inilah kota Probolinggo dalam sistem dan pola pengajaran Pendidikan Lingkungan Hidup lebih menonjolkan Implementasi diseluruh mata pelajaran pendidikan di sekolah-sekolah, sehingga tidak heran jika banyak program-program aksi lingkungan dan penyelamatan lingkungan yang dilakukan oleh para warga kota Probolinggo. Sumber Berita
Baca Selengkapnya...

Komposter Aerob BLH Kota Probolinggo

Sampah merupakan salah satu kata yang enggan kita dengarkan, disamping karena sifatnya yang kotor dan bau kata-kata “SAMPAH” banyak kaitannya dengan yang namanya kotor, jorok. Namun kali ini BLH Kota Probolinggo akan membuat sampah tersebut menjadi suatu hal yang sangat berguna. Sampah sendiri terdiri dari dua macam yakni sampah organik dan non organik, dan sampah yang organik juga dibedakan jadi dua lagi yakni organik basah (daun, tanaman) dan organik olahan (nasi,sayur,makanan,dll), nah pemanfaatan sampah organik tersebut dapat ditunjang dengan yang nama kerennya KOMPOSTER AEROB.

Terobosan yang dilakukan oleh BLH Kota Probolinggo ini terkait dengan kebersihan lingkungan hidup sebagai salah satu penunjang dari proses pemanfaatan sampah yang diberikan nama KOMPOSTER AEROB. Karena dirasa manfaat KOMPOSTER AEROB ini sangat penting, maka BLH Kota Probolinggo memberikan /RT satu KOMPOSTER untuk dikelola oleh warganya. Contohnya di Perumahan Kopian Indah, BLH telah menyediakan KOMPOSTER AEROB ini secara cuma-cuma.

Karena Pemerintah Kota Probolinggo sudah memberikan fasilitas KOMPOSTER AEROB secara cuma-cuma kini tinggal partisipasi warga Kota Probolinggo untuk mengelola sendiri sampah-sampah sehingga Kota Probolinggo selalu bersih dan bebas dari segala jenis kuman dan penyakit. Sumber Berita
Baca Selengkapnya...

Teknologi Sampah di Konvensi Sampah Nasional

Pemerintah daerah bisa memanfaatkan kemajuan teknologi untuk mengatasi masalah sampah. Deputi Bidang Komunikasi dan Pemberdayaan Masyarakat, Kementerian Lingkungan Hidup Henry Bastaman mengatakan sampah bisa diolah menjadi energi listrik. Menurut Henry, penerapan teknologi ini mulai dilakukan pemerintah daerah Bekasi, Jawa Barat. “Kota Bekasi tanggal 10 Maret kalau tidak salah mereka akan melaunching Bantar Gebang sebagai salah satu sumber energi mereka. Energi listrik dari sampah. teknologi sudah ada, bisa diterapkan, Sekarang tinggal bagaimana itu dijadikan kebijkan praktis, tehnis untuk dilaksanakan di pemerintah daerah.”

Henry Bastaman menambahkan, penerapan teknologi pengolahan sampah menjadi energi listrik akan disosialisasikan dalam Konvensi Sampah Nasional di Probolinggo, Jawa Timur, November mendatang. Konvensi melibatkan lebih dari 30-an pemerintah daerah tingkat kabupaten/kota se-Indonesia. Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Kota Probolinggo Budi Krisyanto mengatakan, konvensi nasional sampah yang akan diselenggarakan di Kota Probolinggo ini merupakan konvensi ketiga setelah konvensi pertama dan kedua diselenggarakan di Bantul dan Semarang.

Menurut Budi, komitmen yang tinggi dalam penggunaan pupuk organik dari pengolahan sampah organik menjadi kompos membuat kota ini dipilih menjadi tuan rumah konvensi nasional sampah. Di Kota Probolinggo, saat ini ada empat lokasi pengolahan sampah menjadi kompos. Produksi kompos dari reduksi sampah di Kota Probolinggo cukup tinggi. Setiap bulannya kurang lebih 10 ton kompos berhasil diproduksi. Sumber Berita
Baca Selengkapnya...

Pasar Bersih dan Sehat Kota Probolinggo

HARI masih pagi, tapi keringat sudah membasahi tubuh Suhar. Warga Sukabumi, Mayangan, Probolinggo, Jawa Timur ini bahu-membahu bersama lima rekannya menyambut sampah yang datang dari berbagai penjuru kota. Tangannya cekatan menyortir sampah sesuai dengan jenisnya, organik dan anorganik. Masker, sarung tangan, dan kaus lengan panjang milik Suhar pun sudah mulai belepotan. Namun satu bak berukuran 4 x 4 meter persegi yang berisi sampah pasar masih menunggu sentuhannya. Tanpa rasa canggung, Suhar kembali memilah-milah sampah yang sudah mulai mengeluarkan bau tak sedap itu.

Sampah organik yang telah dipisahkan dimasukkan ke mesin pencacah. Hasil olahan yang berupa serpihan yang lebih kecil ditempatkan dalam bak untuk proses fermentasi. Dengan bantuan bioaktivator, sekitar sebulan kemudian sampah itu pun berubah menjadi pupuk kompos. Setelah dikemas, pupuk berbahan baku sampah pun siap dijual. Sudah tiga tahun ini Suhar memproses sampah seperti itu di Unit Pengelolaan Sampah Terpadu Kota Probolinggo. Tempat pengolahan ini hasil kerja sama antara Yayasan Danamon Peduli dan Pemerintah Kota Probolinggo.

Kini, baik sampah pasar maupun rumah tangga tak dibiarkan berlama-lama membusuk dan mencemari kota. Suhar dan rekan-rekannya siap sedia mengolahnya. Hasilnya, Kota Probolinggo kini tampak lebih bersih. Jarang terli-hat gunungan sampah di kota itu. Program itu pun telah berbuah manis. Tak hanya kenyamanan yang dirasakan, tahun lalu kota di tenggara Surabaya itu diganjar Inovasi Manajemen Perkotaan Award 2009 di bidang sanitasi, subbidang pengelolaan sampah perkotaan. Yayasan Peduli Danamon, yang memfasilitasi pengelolaan sampah itu, pun mendapat penghargaan internasional BBC World Challenge pada Desember lalu.

Saat ini Kota Probolinggo telah memiliki empat lokasi pengolahan sampah yang terus menghasilkan kompos. Warga setempat lebih akrab menyebutnya rumah kompos. Keempatnya adalah Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengolahan Sampah Terpadu dan Limbah Induk, UPT Pengolahan Sampah Pasar Baru, dan dua unit pengelolaan sampah di perumahan, yaitu Perumahan Kelurahan Ketapang dan Perumahan Sumber Taman. Untuk memuluskan kebijakan tersebut, pemerintah kota juga mengundang partisipasi aktif warganya dengan menerapkan program pengolahan sampah berbasis komunitas. "Kita membentuk kelompok-kelompok masyarakat peduli sampah," kata Kepala Badan Perencanaan Daerah Kota Probolinggo Budi Krisyanto.

Satu kelompok masyarakat (pokmas) terdiri atas 10 hingga 15 rumah tangga. Kelompok ini bertugas mengumpulkan dan memilah sampah yang dihasilkan di lingkungan masing-masing. Jika sudah terkumpul, koordinator menghubungi rumah kompos agar sampahnya segera diambil. Hingga sekarang, kata Budi, sudah terbentuk kurang-lebih 100 kelompok masyarakat. Dampak positifnya pun mulai dirasakan masyarakat. Mereka bisa memperoleh pupuk cuma-cuma. Dari sampah yang disetorkan ke rumah kompos, 70 persen hasilnya dikembalikan ke kelompok masyarakat. Pupuk tersebut kemudian digunakan di lahan pertanian mereka. "Sisanya bisa dijual untuk kas pokmas," kata Koordinator Paguyuban Peduli Sampah Kota Probolinggo, Sukiman.

Selain itu, ada manfaat lain yang diperoleh masyarakat, yaitu pembuatan kerajinan dari sampah nonorganik. "Ada usaha pembuatan suvenir di pokmas berupa tas dan dompet," kata Sukiman. Pekerjaan ini sebagian besar dilaksanakan oleh kaum perempuan. Data UPT Pengolahan Sampah dan Limbah Badan Lingkungan Hidup Kota Probolinggo menunjukkan tahun lalu produksi kompos sekitar 72 ton dari reduksi sampah sebesar 138 ton. Jika digabungkan dengan kompos yang diproduksi masyarakat per September 2009 sebanyak 100,4 ton kompos, sudah dihasilkan sampah 401,6 ton. Rata-rata produksi kompos per bulan 10 ton.

Kepala UPT Lucia Aries Yulianti pun mengharapkan peran serta masyarakat terus berlanjut. "Kelompok masyarakat yang ada sekarang ini sangat membantu dalam proses pengolahan sampah menjadi kompos," katanya. Menurut dia, pengelolaan sampah akan mengurangi penumpukan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA). Kelak, kata Lucia, TPA menjadi tempat pembuangan sampah yang memang benar-benar tidak bisa dimanfaatkan lagi. Bantul, Yogyakarta, juga menyimpan cerita sukses tentang pengelolaan sampah. Empat pasar tradisional di kabupaten itu, yaitu Pasar Bantul, Pasar Niten, Pasar Imogiri, dan Pasar Piyungan, sukses mengolah sampah pasar menjadi pupuk kompos.

Awalnya, program tersebut hanya di Pasar Bantul, difasilitasi oleh Yayasan Danamon Peduli dengan program "Pasarku Bersih, Sehat, dan Sejahtera". Pemerintah setempat kemudian mereplikasi di ketiga pasar lainnya secara mandiri. Aktivitas pengolahan sampah dimulai sejak Februari 2007 di keempat pasar tradisional tersebut. Saban hari, sampah pasar dikumpulkan oleh petugas dengan gerobak sampah kemudian dibawa ke depo di belakang pasar. Sama seperti yang dilakukan Suhar di Probolinggo, sampah yang terkumpul itu disortir dan diolah menjadi kompos.

"Setiap hari Pasar Bantul menghasilkan 1,5 hingga 2 ton sampah," kata Sugito, 42 tahun, Ketua Koperasi Guyup Rukun yang juga Ketua Kelompok Kerja Pengolah Sampah Pasar Bantul. Dari sampah sebanyak itu dihasilkan 600 hingga 800 kilogram kompos. Setelah dikemas dalam wadah 20 kilogram dan 40 kilogram, pupuk kompos itu dijual Rp 600 hingga Rp 800 per kilogram. Menurut Sugito, sebelum ada sistem pengelolaan sampah pasar, masyarakat di sekitar pasar sering mengeluhkan soal bau dan lalat yang merajalela, apalagi pada musim hujan. "Kini masyarakat tidak ada lagi yang protes karena tak ada lagi sampah yang menumpuk di sini," katanya.

Sayang, sejak Desember 2009, proses pengolahan sampah pasar menjadi kompos agak tersendat. Penyebabnya, kata Kepala Kantor Pengelola Pasar Gatot Sutedja, tim penggerak PKK yang menjadi pembeli utama menghentikan pembelian pupuk hasil olahan sampah pasar tersebut. Gatot berjanji Maret nanti pengolahan sampah pasar menjadi kompos di empat pasar tradisional Bantul akan mulai beroperasi lagi. Dinas Pertanian Kabupaten Bantul yang akan membelinya. "Dinas Pertanian juga akan membantu memasarkan ke petani," katanya.

Selain masih akan memproduksi pupuk kompos, menurut Gatot, sampah pasar nantinya akan diolah menjadi pupuk organik jenis granul. Pupuk ini sebenarnya sama dengan pupuk kompos, hanya bentuknya berupa butiran. "Petani ternyata lebih suka menggunakan kompos jenis granul," katanya. Program Manager Yayasan Danamon Peduli Fauzan Joko menyatakan lembaganya telah mengaplikasikan program "Pasarku Bersih, Sehat, dan Sejahtera" di 31 kota. Program rutin tersebut berasal dari keprihatinan akan lingkungan di pasar tradisional yang lekat dengan asosiasi kotor, kumuh, dan becek.

Akibatnya, minat masyarakat mengunjungi pasar tradisional pun menurun drastis. "Data menunjukkan keberadaan pasar tradisional menurun 3,1 persen per tahun," katanya. Dengan adanya pengelolaan sampah yang baik, Fauzan berharap pasar tradisional akan menjadi lebih bersih dan nyaman. Sumber Berita
Baca Selengkapnya...

Pembuatan Pupuk Organik Berbahan Baku Sampah

Kota Probolinggo merupakan salah satu kota di wilayah bagian utara Propinsi Jawa Timur yang terletak di antara jalur jalan Surabaya – Banyuwangi. Luasnya sekitar 5.667 Ha yang secara administratif dibagi menjadi 3 (tiga) kecamatan yaitu Kecamatan Mayangan (dengan luas 1.931 Ha), Kecamatan Kademangan (2.151 Ha) dan Kecamatan Wonoasih (1.586 Ha). Pada tahun 2005, jumlah penduduk Kota Probolinggo mencapai 186.221 jiwa, dengan tingkat kepadatan penduduk Kota mencapai 3.568 jiwa/km2 (1). Saat ini, Kota Probolinggo, termasuk juga kota-kota lainnya di Indonesia, menghadapi permasalahan sampah yang cukup pelik seperti pencemaran lingkungan akibat pembakaran dan penumpukan sampah yang tidak terkendali, pembuangan sampah ke sungai sehingga berakibat banjir, dan sulitnya mencari lahan Tempat Pengolahan Akhir (TPA). Sesungguhnya, permasalahan sampah dapat diselesaikan dengan melakukan pengolahan sampah sehingga menjadi tidak mencemari lingkungan, meningkatkan efektivitas pengangkutan sampah, me-recovery sumberdaya, dan memperpanjang umur TPA.

Timbulan sampah Kota Probolinggo mencapai 830 m3/hari yang terdistribusikan berdasarkan lokasinya: timbulan sampah yang berasal dari kawasan pemukiman mencapai 512 m3/hari, kawasan industri 186 m3/hari, pasar tradisional 85 m3/hari, fasilitas perdagangan 44 m3/hari, dan fasilitas kesehatan 3 m3/hari. Secara umum, sampah Kota Probolinggo didominasi oleh sampah organik dan plastik dengan komposisi: sampah organik yang berasal pasar mencapai 92 persen sedangkan dari daerah industri 53 persen (1). Komposisi sampah organik dari pemukiman diperkirakan 60 persen yang berupa sisa-sisa biomasa produk pertanian yang berasal dari sentra-sentra pertanian di desa atau pinggiran kota yang dikirim ke kota, seperti sayur-mayur, palawija, buah-buahan, dan sebagainya. Sampah organik dapat dikonversikan menjadi pupuk organik berkualitas tinggi.

Lahan-lahan pertanian di pinggiran Kota Probolinggo saat ini sangat membutuhkan pupuk organik untuk memperbaiki kesuburannya yang kian berkurang. Penggunaan pupuk kimia yang selama ini dilakukan tanpa dibarengi dengan penambahan material organik telah menyebabkan tanah pertanian menjadi miskin hara dan tidak gembur. Kondisi ini semakin diperparah dengan ketersediaan pupuk kimia yang semakin sulit didapatkan sehingga menyebabkan turunnya produk pertanian. Oleh karena itu sebagian petani telah memakai kembali pupuk organik untuk memperbaiki kesuburan tanahnya. Pengalaman ini mulai diikuti oleh petani-petani lainnya dan telah berhasil meningkatkan kesadaran petani akan pentingnya penggunaan pupuk organik. Akibatnya, kebutuhan akan pupuk organik juga semakin meningkat, namun sayangnya ketersediaan pupuk organik yang berkualitas, murah dan mudah didapat, sangat terbatas. Dengan luas lahan pertanian sebesar 2.939 Ha diperkirakan Kota Probolinggo, memerlukan kompos sebesar 21.000 ton pertahunnya. Dengan menerapkan teknologi composting diharapkan permasalahan sampah di Kota Probolinggo dan permasalahan penyediaan pupuk organik yang berkualitas bagi petani dapat dipecahkan.

Teknologi Accelerated Revolver Windrow Composting
Untuk mendukung pengelolaan sampah kota menjadi kompos dan untuk mendiseminasikan teknologi yang telah dikaji oleh BPPT, maka pada tahun anggaran 2008/2009, Pusat Teknologi Lingkungan – BPPT melakukan kegiatan penerapan teknologi Accelerated Revolver Windrow Composting (ARWC) di Kota Probolinggo.

Teknologi accelerated revolver windrow composting (ARWC) atau pengomposan dipercepat sistem windrow bergulir merupakan teknologi pengomposan yang telah dikembangkan oleh Pusat Teknologi Lingkungan – BPPT yang telah diteliti dan teruji kehandalannya. Teknologi ARWC adalah sistem fermentasi sampah organik yang dilakukan secara aerobik dengan cara ditumpuk memanjang (windrow) dan digulirkan (revolver) secara reguler sehingga berubah menjadi materi stabil seperti humus atau disebut kompos dalam waktu yang dipercepat (accelerated). Mikroba yang digunakan dalam fermentasi tersebut dipilih dari mikroba alami (native microbe) hasil pengembangan sendiri yang mampu melakukan fermentasi secara cepat dan dapat beradaptasi dengan baik terhadap perubahan lingkungan.

Karakteristik teknologi ARWC adalah sederhana, mudah, murah dan ramah lingkungan sehingga gampang direplikasi dan dioperasikan di manapun tempatnya di Indonesia. Pengoperasian ARWC dapat dilakukan secara manual maupun mekanis tergantung dari situasi dan kondisinya. Prosesnya tidak berbau dan berlangsung cepat antara 4 sampai 6 minggu. Dengan proses perguliran (revolve) yang dilakukan, dapat terjamin estetika dan kemudahan prosesnya. Sedangkan produk yang dihasilkannya adalah kompos yang bermutu tinggi, yakni kompos yang bebas dari bibit gulma, higinis (bebas bakteri patogen) dan mengandung unsur hara yang tinggi.

Teknologi ARWC telah teruji kehandalannya sehingga telah diaplikasikan di beberapa tempat di Indonesia dengan bahan baku yang beragam jenisnya mulai dari limbah pertanian, limbah industri, hingga sampah kota. Bahkan, teknologi tersebut telah direkomendasikan oleh KLH dan World Bank untuk diterapkan di seluruh Indonesia. Dalam hubungan dengan penanganan sampah kota, teknologi ARWC memberikan andil yang cukup penting bagi pembangunan perkotaan dan penyediaan pupuk organik bagi pertanian.

Pengembangan proses produksi pupuk organik kompos di Kota Probolinggo dilakukan dengan optimasi proses dan peningkatan sarana dan prasarana pengomposan. Optimasi proses dilakukan dengan menerapkan teknologi ARWC yang mempunyai kapasitas terpasang produksi kompos dapat mencapai sekitar 5 ton kompos per minggu. Bahan baku pupuk organik adalah sampah organik yang berasal dari beberapa sumber yaitu (i) pemukiman, (ii) sapuan jalan dan taman, dan (iii) pasar, yang diangkut ke plant composting dengan gerobak motor, .mobil pickup, armroll truck atau dump truck.

Proses pertama sebelum dikomposkan, sampah harus dipilah terlebih dahulu di sumber sampah dan di plant composting. Pemilahan di sumber melibatkan peran serta masyarakat yang tergabung dalam kelompok masyarakat (pokmas) peduli sampah. Sampah yang telah terpilah di sumbernya kemudian diangkut dengan baktor oleh petugas untuk dibawa ke tempat produksi pupuk organik. Sementara itu, proses pemilahan sampah di plant composting dilakukan secara manual terhadap sampah yang berasal dari pasar karena masih banyak mengandung sampah anorganik. Proses pemilahan dilakukan di area waste unloading (penurunan sampah) dan ruang pencacahan. Sampah yang berasal dari sapuan jalan langsung dikomposkan, tidak dipilah lagi, karena komposisinya telah didominasi oleh sampah organik. Selanjutnya sampah organik yang terkumpul, sebelum difermentasi, dicacah terlebih dahulu dengan mesin pencacah.

Dari area pencacahan dan pemilahan, sampah diangkut dengan gerobak motor ke composting hall (ruang pengomposan) yang terpisahkan oleh area pengayakan. Tumpukan yang dibentuk secara manual dengan garu dan skop memiliki dimensi lebar 2,5 meter, panjang 8 meter, dan tinggi 1,5 meter yang berbentuk trapesium memanjang (windrow). Dengan dimensi tersebut, proses aerasi alamiah masih berjalan cukup optimal. Untuk mengoptimalkan proses pembuatan pupuk organik, pada saat pembentukan tumpukan ditambahkan kotoran sapi yang kaya akan mikroorganisma (berfungsi sebagai starter) dan kandungan nitrogen yang dapat mempercepat proses pengomposan sehingga proses pengomposan dapat dipercepat (accelerated).

Secara reguler tumpukan disiram untuk menjaga kelembapan sehingga proses pengomposan berjalan optomal. Proses penyiraman menggunakan air tanah dilakukan dengan sprayer/selang. air. Pengendalian kelembapan secara ketat dilakukan karena udara di sekitarnya cukup panas (matahari terik) dan berangin kencang sehingga tumpukan menjadi cepat kering.

Tumpukan yang terbentuk dibiarkan terfermentasi secara aerobik sehingga secara alamiah suhunya meningkat hingga 70 oC. Suhu tinggi tersebut dapat berlangsung selama dua minggu. Setelah tumpukan berumur satu minggu, tumpukan tersebut digulirkan (revolved) ke tempat sebelahnya. Tempat yang telah kosong pada petak 1 diisi kembali dengan bahan baku yang baru. Seminggu kemudian tumpukan pada petak kedua dipindahkan ke petak ketiga, tumpukan petak pertama ke petak dua. Perguliran dilakukan secara reguler hingga masuk petak keenam. Setelah seminggu berada di petak keenam, tumpukan sudah menjadi kompos matang dan siap dipanen. Proses perguliran dilakukan secara manual dengan bantuan baktor, garu dan skop.

Dari petak keenam, produk pupuk organik yang telah jadi (kompos) kemudian digelar di area pengayakan sebelum diayak secara manual dan mekanikal. Pengayakan mekanikal dilakukan jika produk yang akan diayak jumlahnya cukup banyak, sedangkan untuk jumlah sedikit cukup diayak secara manual. Diameter lubang-lubang ayakan sekitar 5 mm. Ayakan mekanis yang dipergunakan berupa trommel screen yang digerakan dengan mesin diesel. Proses pembuatan pupuk organik metode ARWC dapat dilihat pada Gambar 2.

Hasil Produksi Pupuk Organik dan Pemasarannya
Kompos halus berukuran diameter 5 mm kemudian diayak lagi dengan ayakan 3 mm untuk dibuat granul. Proses pembuatan granul dilakukan dengan rotating disc (piringan berputar) yang digerakan dengan mesin diesel yang dapat menghasilkan sekitar 30 kg granul kompos dalam waktu 5 menit. Granul kompos yang diproduksi kemudian dikeringkan dibawah sinar matahari. Setelah itu, sebagian granul diperkaya dengan N, P, dan K alami dalam mesin mixer sesuai dengan yang dibutuhkan oleh konsumen. Baik produk pupuk organik yang telah diayak maupun yang telah digranul dikemas dalam kemasan plastik transparan berlabel dengan ukuran 5 kg. Sealing kemasan dilakukan dengan electric hotseal. Untuk pupuk granul, selain dikemas dalam ukuran tersebut, juga dikemas dalam karung dengan ukuran 50 kg. Penutupan karung dilakukan dengan menjahitnya. Merek pupuk organiknya yaitu BIOKOMPOS Bayuangga Lestari.

Produk pupuk organik kompos yang diproduksi telah memenuhi beberapa persyaratan kualitas kompos seperti yang tercantum dalam SNI Kompos No. 19-7030-2004 (2). Rasio C/N kompos adalah 18, suatu nilai yang mendekati rasio C/N tanah yaitu sekitar 10 sampai 20. Suhu kompos sekitar 25 oC, sesuai dengan dengan suhu air tanah. Baunya seperti bau tanah karena materi yang dikandungnya sudah menyerupai materi tanah dan berwarna kehitaman dan teksturnya juga seperti tanah. Karakteristik fisik dan kimia kompos disajikan dalam Tabel 1. Jumlah pupuk yang sudah berhasil diproduksi dari Bulan Mei sampai Oktober 2008 adalah 49,75 ton. Jika dirata-ratakan produksi pupuk organik perminggunya adalah 2,07 ton, padahal target produksi pupuk organik adalah 3 ton perminggu.

Produk pupuk organik yang dipasarkan terdiri dari dua bentuk yaitu bentuk kompos (biasa) dan bentuk kompos granul. Distribusi pupuk kompos (biasa) dilakukan di dalam Kota Probolinggo, sedangkan distribusi kompos granul sebagian besar dilakukan di luar Kota Probolinggo seperti Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Nganjuk dan Kota Malang. Di dalam Kota Probolinggo, kompos sebagian didistribusikan ke penduduk sebagai bentuk insentif ke rumah tangga yang telah berperan memilah sampah, kelompok tani, dan sebagian yang lainnya didistrbusikan ke para retailer atau kios tanaman hias yang tersebar di beberapa lajur jalan di Kota Probolinggo. Hasil penerapan produk granul kompos pada tanaman bawang merah dan kentang yang telah dilakukan petani terbukti dapat meningkatkan hasil panen komoditas tersebut.

Penutup
Penerapan teknologi Accelerated Revolver Windrow Composting (ARWC) di Kota Probolinggo telah berhasil dilaksanakan. Produknya, baik dalam bentuk kompos biasa maupun kompos granul, berkualitas baik dan memenuhi standar nasional. Kegiatan pengolahan sampah menjadi pupuk organik telah membuka lapangan kerja baru di bidang pengomposan dan daur ulang sampah kota serta meningkatkan efisiensi sistem pengelolaan sampah kota dan memperpanjang umur TPA.

Kegiatan pembuatan pupuk organik kompos di Kota Probolinggo sebaiknya direplikasi di daerah-daerah lainnya dengan serius dan profesional sesuai kondisi daerahnya karena disamping bermanfaat dalam penyediaan pupuk organik untuk ketahanan pangan dan menjaga kebersihan serta kehijauan kota tetapi juga memberi manfaat ekonomi bagi pengelola kebersihan. Oleh karena itu, program seperti ini sebaiknya di tahun-tahun mendatang juga diarahkan ke kota-kota lainnya di Indonesia.. Sumber Berita
Baca Selengkapnya...

BLH Kampanye Bahaya Merokok

BLH Kota Probolinggo justru menggelar kampanye bahaya merokok. Menurut Kabid pengembangan pengendalian kapasitas lingkungan hidup (P3KLH) Rahim Arif, kampanye kali ini melibatkan pelajar dari 9 sekolah Adiwiyata yang ada di Kota Probolinggo. Kampanye menghadirkan dua narasumber, ahli patologi dan kesehatan masyarakat Unair Surabaya Dr.Santi Marnini M.Kes dan staf ahli medik fungsional paru RSUD Dr. Sutomo Surabaya Dr. Isnu Pradjoko.

“Kampanye ini merupakan tindak lanjut dari sosialisasi bahaya merokok yang di gelar beberapa waktu lalu,” terang Rahim Arif kemarin (11/12). Lebih lanjut Kabid P3KLH ini merangkan, kampanye dimaksudkan agar masyarakat bisa mengurangi dan faham akan dampak dari bahaya merokok. “Melalui kampanye ini, kita menghimbau kepada masyarakat akan bahaya merokok. Supaya masyarakat dapat memilih untuk tetap merokok atau tidak, setelah tahu bahayanya rokok,” lanjut Rahim Arif.

Ada beberapa titik yang menjadi tempat kampanye. Di antaranya perempatan brak, perempatan bremi, gladak serang, serta pasar gotong royong Kota Probolinggo. Kampanye melibatkan 60 pelajar dari 9 sekolah adiwiyata yang ada di Kota Probolinggo. Para pelajar memberikan pamflet bahaya merokok pada pengendara yang kebetulan lewat di tempat itu. Sumber Berita
Baca Selengkapnya...

Kota Probolinggo dan Keberhasilan Penanganan Sampah Kota

Kota Probolinggo bekerja bekerjasama dengan ’NOTHING WASTED’ Danamon Peduli untuk mengembangkan sistem penanganan sampah kota yang selama ini sudah berjalan baik, dimana pemerintah dan masyarakat bekerjasama untuk mengelola sampah kota. Walaupun hari mulai malam ketika tim pembuat film World Challenge tiba di lokasi rumah kompos, semangat tim pemerintah kota dan kelompok masyarkat tetap tinggi. Kami pergi ke kelurahan Mangunharjo dimana sistem pengelolaan sampah kota terpadu diterapkan.

Di kelurahan ini, setiap rumah dapat menukar sampahnya dengan kompos dari rumah kompos Danamon Go Green. 100 kg sampah dapat menghasilkan 30 kg kompos, dimana 21 kg dikembalikan ke rumah, dan 9 kg dimanfaatkan oleh rumah kompos. Masyarakat bisa memakai atau menjual kompos yang dihasilkan. Pemerintah kota Probolinggi tidak mengambil keuntungan dari proses ini, karena kegiatan ini merupakan bagian dari pelayanan masyarakat yang diberikan oleh kota Probolinggo agar masyarakat termotivasi untuk meningkatkan sikap sehat dan bersih.

One Planet Pictures juga membuat film tentang Ibu Hamida, pembuat kerajinan dari sampah anorganik. Ibu Hamida bisa menjual kerajinannya langsung atau melalui koperasi yang didukung oleh kantor lingkungan hidup kota Probolinggo. Ibu Hamida telah memisahkan sampah organik dan anorganik selama tiga tahun, dan pada dua tahun terakhir beliau membuat kerajinan dari sampah plastik. Ibu Hamida mendapat tambahan penghasilan antara Rp. 20.000 – 30.000 per hari dari kerajinan ini. Beliau sangat bangga akan kegiatan yang dijalaninya. ”Sampah dapat membuat masalah, tetapi jika ditangani dan dimanfaatkan dengan baik, sampah bisa menambah penghasilan bagi keluarga saya”, kata Ibu Hamida. Sumber Berita
Baca Selengkapnya...

BLH Sayangkan Budaya Buang Sampah Di Sungai

Pencemaran sungai rata-rata 60 persen berasal limbah domestik, yakni dari sanitasi, sampah, dan detergen. Selain itu, industri juga turut menyumbang 30 persen pencemaran air melalui pembuangan limbah cair ke sungai, sedangkan 10 persennya berasal dari limbah lainnya seperti dari pertanian dan peternakan. Untuk itu, budaya membuang sampah ke sungai yang turut menyumbang pencemaran terbesar sangat disayangkan pihak Badan Lingkungan Hidup (BLH). Kepala Bidang Komunikasi dan Peningkatan Peran Serta Masyarakat BLH Jatim, Putu Artha Giri di kantornya, Senin (26/10) mengimbau, pada seluruh masyarakat yang terbiasa membuang sampah di sungai agar tidak lagi melakukan hal tersebut. Pasalnya, air sungai yang tercemar juga akan menjadi bahan konsumsi masyarakat. ”Jika air tercemar tentu akan berdampak pada kesehatan,” ungkapnya.

Ia menuturkan, dalam rangka mengurangi pencemaran dari limbah domestik, sebelumnya pada awal 2009 pihaknya telah mencanangkan program Stop Cemari Kali Surabaya. Menurutnya, program itu dimaksudkan untuk lebih meningkatkan peran serta masyarakat dalam rangka mereduksi pencemaran sungai. Walaupun pencanangan masih dalam lingkup Kali Surabaya, ia menjelaskan, implementasinya dapat dilakukan untuk seluruh sungai di kawasan Jatim. ”Kali Surabaya hanya sebagai sampel saja untuk pencanangan dan tindaklanjutnya di sungai yang berada di daerah akan lebih ditekankan pada kerjasama dengan pemerintah kab/kota setempat,” ujarnya

Putu juga sempat menyayangkan pencemaran sungai yang juga terjadi di Probolinggo. Kebiasaan sebagian masyarakat Kota Probolinggo, membuang sampah di sungai hingga kini masih sulit dibendung. Akibatnya, tak sedikit sungai-sungai yang ada mengalami pendangkalan akibat sampah yang menumpuk. Seperti di Sungai Wiroborang, selain sudah mulai mengalami pendangkalan, tumpukan sampah juga kerap menjadi penyebab keluarnya aroma busuk yang mengganggu aktivitas masyarakat yang tinggal di kampung sekitar sungai. Air yang mengalir dan digunakan untuk mengairi persawahan di sekitar sungai juga sudah berwarna coklat kehitam-hitaman. Kondisi yang sama juga terjadi pada sungai yang mengalir di kawasan Perum Arum Permai, Kota Probolinggo. Di sungai yang konon menjadi penanda Kota Probolinggo, warga menyebutkan aliran Kali Banger ini juga terdapat sampah rumah tangga yang menumpuk.

Untuk itu, Putu meminta pada pihak BLH Kota Probolinggo untuk melakukan sosialisasi pada masyarakat agar tidak membuang sampah ke sungai. ”Jika BLH Probolinggo mau melakukan upaya tersebut dan memberikan pemahaman pada masyarakat akan bahaya pencemaran sungai, pasti akan berdampak positif dan itu harus segera dilakukan secepatnya,” pungkasnya. Sumber Berita
Baca Selengkapnya...

Pemkot Bidik Adipura Kencana

Sukses meraih penghargaan Adipura selama dua tahun berturut-turut (2008-2009) tidak membuat Kota Probolinggo berpuas diri. Badan Lingkungan Hidup (BLH) sudah bersiap meraih Adipura Kencana tahun depan. Sebagai mana hasil rapat di Malang bersama Kementerian Lingkungan Hidup memang disampaikan secara lisan bakal ada penghargaan Adipura Kencana, beberapa waktu lalu . Tapi untuk daerah yang tiga kali berturut-turut mendapatkan Adipura. Kepala BLH Endro Suroso mengungkapkan, dikantornya Senin 5/10.

Jika tahun 2010 Kota Probolinggo dapat Adipura maka secara otomatis bisa meraih Adipura Kencana. Tentunya untuk mendapatkan penghargaan tersebut harus didukung perolehan Adiwiyata Bestari dan Wahana Tata Nugraha. "Kota Probolinggo kan sudah pernah dapat dua penghargaan tersebut. Jadi, langkah mendapatkan Adipura Kencana lebih mudah dan mudah-mudahan penghargaan Adipura tetap bertahan," harap Endro.

Tahun 2009 lalu penghargaan Adipura sudah diraih kota seribu taman ini dengan nilai 76,69 dari ketentuan nilai minimal adipura 73 (passing grade) . Dari evaluasi penilaian tersebut terdapat peningkatan nilai secara signifikan pada beberapa titik pantau seperti sekolah dan puskesmas. Sementara titik pantau yang belum memenuhi standar adalah pasar dan saluran terbuka (sanitasi). Empat lokasi pasar yang jadi titik pantau antara lain pasar baru, pasar Gotong Royong, pasar Mangunharjo dan pasar Ketapang.

"Titik pantau itu yang benar-benar harus diperhatikan. Kami sudah berupaya mengubah wajah, tetapi jika tidak didukung peran serta atau kesadaran dari masyarakat ya percuma. Setidaknya persiapan menjelang penilaian sudah kami siapkan sejak sekarang karena penilaian tahap awal (P1) kira-kira awal November mendatang," jelas Endro. Sementara penghargaan dihelat antara bulan Mei atau Juni 2010. Sebelum tim penilaian turun maka BLH dan seluruh instansi harus mulai bersiap. Mereka punya target untuk baik peringkat. Tahun 2009 Kota Probolinggo berada di peringkat 7 kategori kota sedang. Di tahun 2010 mendatang Endro menargetkan kota ini jadi peringkat 3 pada kategori yang sama.

Untuk mencapai nilai yang lebih tinggi diperlukan konsentrasi lebih pada nilai-nilai titik pantau yang jauh dari standar. Soal pasar dan sanitasi, BLH bakal berkoordinasi dengan instansi terkait. Agar pada Adipura selanjutnya nilai titik pantau tersebut minimal bisa masuk ke passing grade. Satu lagi yang perlu diperhatikan adalah penghijauan di kawasan perumahan. Penilaian Adipura tahun 2010 bakal ditambah titik pantau. Yakni IPAL komunal atau instalasi pengelolaan limbah di tingkat kawasan. BLH juga tengah melakukan studi kelayakan bagaimana agar limbah yang berada di suatu kawasan tidak menjadi polusi. Lokasi studi kelayakan itu di Mayangan, Mangunharjo, dan Sukabumi. "Untuk awalnya kami membuat dua dulu. Pengerjaannya kami kerjasama dengan ITS. Sekarang konsultan sedang membuat. Soal anggaran sudah kami siapkan," tegasnya. Sumber Berita
Baca Selengkapnya...

Strategi Untuk Menciptakan Kesinambungan Produksi Dan Pemanfaatan Pupuk

I. TINJAUAN UMUM KONDISI DAERAH

A. KONDISI UMUM
Kota Probolinggo merupakan salah satu kota di wilayah bagian utara Propinsi Jawa Timur. Terletak diantara jalur jalan Surabaya / Malang – Banyuwangi/Jember/Lumajang. Secara astronomis daerah ini terletak di antara 7º43’41” sampai 7º49’04” Lintang Selatan dan 6º21’31” sampai 6º25’49” Bujur Timur dengan batas wilayah:
a. Sebelah Utara: Selat Madura.
b. Sebelah Timur: Kecamatan Dringu Kabupaten Probolinggo.
c. Sebelah Selatan: Kecamatan Leces, Wonomerto, Bantaran, dan Sumberasih Kabupaten Probolinggo.
d. Sebelah Barat: Kecamatan Sumberasih Kabupaten Probolinggo.

Secara administrasi Kota Probolinggo dibagi menjadi 5 Kecamatan dan 29 Kelurahan. Kecamatan dimaksud adalah: Kecamatan Mayangan, Kademangan, Wonoasih, Kanigaran dan Kedopok. Wilayah Kota Probolinggo terletak pada Ketinggian 0 sampai kurang dari 50 meter diatas permukaan air laut. Semakin ke wilayah selatan, ketinggian terhadap permukaan air laut semakin bertambah. Namun demikian seluruh wilayah Kota Probolinggo relatif berlereng (0–2%). Hal ini mengakibatkan masalah erosi tanah dan genangan air cenderung terjadi di daerah ini.

Pada tahun 2008 jumlah penduduk Kota Probolinggo sebesar 200.000 jiwa, sedangkan luas wilayah Kota Probolinggo adalah 56,67 per Km2, sehingga tingkat kepadatan penduduknya sebesar 283 jiwa / Km2. Ditinjau dari segi sosial budaya, masyarakat Probolinggo telah mengalami perkembangan dari pola budaya yang agraris (petani dan nelayan) menjadi masyarakat yang urbanis. Sedangkan dari spektrum kesukuan, komposisi sosial masyarakat Probolinggo secara keseluruhan didominasi oleh suku jawa dan madura sehingga corak adat istiadat yang berkembang merupakan perpaduan diantara kedua budaya tersebut.

B. LUAS LAHAN PERTANIAN
Penggunaan lahan di wilayah Probolinggo pada 2008 di dominasi oleh kawasan sawah dengan luas 3.261.962,5 Ha (62,47 %), kemudian disusul dengan perumahan atau perkampungan dengan luas 1.360.037,5 (20,47%), Kebun campuran dengan luas 606.125 Ha (10,70 %) , jasa dengan luas 96.700 Ha (1,71%), industri dengan luas 143,80 Ha (0,77 %), dan perdagangan dengan luas 27.500 Ha (0,48%). Berdasarkan data tersebut karakteristik daerah Kota Probolinggo masih bersifat daerah pertanian sehingga sangat berpotensi untuk mengembangkan bidang pertanian.

C. KEBUTUHAN PUPUK
Dominasi lahan pertanian menuntut kebutuhan pupuk yang tinggi dalam pengelolaan pertanian. Selama ini kebutuhan pupuk di Kota Probolinggo dicukupi dengan pupuk kimia. Berdasarkan catatan data statistik kebutuhan pupuk untuk kegiatan pertanian di Kota probolinggo tahun 2008 sebanyak 2.953 ton. Kondisi di lapangan kebutuhan pupuk masih mengalami kekurangan bahkan pada musim tanam pernah terjadi kelangkaan pupuk.

D. KEBUTUHAN PUPUK ORGANIK
Pupuk organik merupakan alternatif untuk digunakan dalam pengelolaan pertanian mengingat pupuk organik memiliki kemampuan untuk mengembalikan kesuburan tanah bila dibandingkan dengan pupuk kimia. Kebutuhan pupuk organik di Kota Probolinggo pada dasarnya cukup tinggi, namun minat petani untuk menggunakan pupuk organik sangat rendah. Kebutuhan pupuk organik masih terbatas digunakan di kalangan pecinta bunga dan pembibitan. Kebutuhan terhadap pupuk organik oleh petani perlu diciptakan melalui sosialisasi untuk menggunakan pupuk organik melalui demplot dan percontohan aplikasi pupuk organik sehingga petani berminat untuk memanfaatkan pupuk organik berupa kompos untuk kegiatan pertanian. Berdasarkan luas wilayah pertanian maka dibutuhkan pupuk organik sebanyak 11.812 ton.

II. KEBIJAKAN REVITALISASI PASAR TRADISIONAL

A. REVITALISASI PASAR TRADISIONAL
Keberadaan Pasar tradisional memiliki peran penting dalam perekonomian masyarakat Kota Probolinggo di antara tumbuhnya pasar-pasar modern. Jumlah pasar tradisional di kota Probolinggo sebanyak 9 buah yaitu :
1. Pasar Baru
2. Pasar Gotong Royong
3. Pasar Kronong
4. Pasar Mangunharjo
5. Pasar Ketapang
6. Pasar Wonoasih
7. Pasar Wiroborang
8. Pasar Randupangger
9. Pasar Kademangan

Pasar tradisional identik dengan kondisi yang kumuh, tidak teratur, sanitasi buruk dan manajemen yang kurang profesional. Walaupun demikian pasar tradisional tetap menjadi penunjang perekonomian masyarakat. Hal ini disebabkan karena karakteristik pasar tradisional adalah dapat berinteraksinya penjual dan pembeli dan terjadi tawar menawar barang antara penjual dan pembeli sehingga terjadi kedekatan emosial dan personal diantara keduanya. Kondisi ini melestarikan budaya masyarakat yang guyub, rukun dan saling memberikan perhatian. Oleh karena itu Pemerintah Kota Probolinggo tetap memberikan perhatian yang besar terhadap keberadaan pasar tradisional. Peningkatan pasar tradisional dilakukan melalui program revitalisasi pasar diantaranya adalah melakukan kegiatan :
1. Perbaikan sarana dan prasarana pasar tradisional berupa : perbaikan los pasar, perbaikan sarana sanitasi, pengelolaan sampah, penyediaan sarana parkir dan penyediaan pos pelayanan pengaduan masyarakat.
2. Peningkatan daya saing pelaku pasar tradisional berupa : standarisasi barang dagangan, pemberian kredit usaha, peningkatan sdm pelaku pasar dan peningkatan aksesibilitas dagang.
3. Pemberdayaan pelaku pasar berupa : peningakatn kualitas barang dagangan, fasilitasi pembentukan paguyuban pedagang pasar, pelayanan pengaduan dan pemberian layanan informasi barang.
4. Manajemen pasar tradisional secara modern berupa : peningkatan sdm aparatur, redesain pasar, pengorganisasian barang, pemberian reward dan punisment serta penegakan peraturan.

B. PEMANFAATAN SAMPAH PASAR
Sampah pasar tradisional terdiri dari berbagai bahan organik dan non organik. Berdasarkan komposisisnya jumlah sampah organik tidak kurang dari 70 % bila dibandingkan dengan sampah non organik, sehingga bahan organik sampah tersebut sangat potensial untuk diolah menjadi kompos. Pasar tradisonal akan menyediakan bahan baku kompos secara terus menerus dan ini menjadi prasyarat penyediaan bahan baku bagi kegiatan industri khususnya industri pupuk organik.

Pengolahan sampah organik menjadi kompos dimulai dengan kegiatan memilah sampah antara organik dan non organik. Pelibatan pelaku pasar dalam melakukan pemilahan dan pengumpulan sampah sangat diperlukan sehingga sarana pewadahan yang terpisah antara sampah organik dan non organik perlu disediakan oleh pemerintah. Kegiatan pendampingan pelaku pasar untuk melakukan kegiatan pemilahan dan pengumpulan sampah perlu terus dilakukan sehingga tercipta sistem pemilahan dan pengumpulan sampah yang didukung oleh pelaku pasar. Dengan demikian proses pengolahan sampah pasar tradisional menjadi kompos akan semakin cepat seiring dengan meningkatnya permintaan produk pertanian organik.

III. STRATEGI DAN PRIORITAS PROGRAM PENGOLAHAN SAMPAH

A. TAHUN 2009
Strategi dan prioritas program pengolahan sampah tahun 2009 diarahkan pada optimalisasi pengolahan sampah pasar baru dengan memanfaatkan bangunan rumah kompos yang telah difasilitasi oleh Yayasan Damon Peduli. Kualitas produksi kompos ditingkatkan melalui deversifikasi produksi kompos menjadi NPK organik granular sehingga memudahkan petani dalam pemanfaatannya. Selain itu produksi pupuk cair sebagai produk sampingan pengolahan sampah organik yang berkualitas tinggi. Sasaran pengolahan sampah diarahkan pada pasar baru mengingat lokasi mengolahan sampah lebih dekat sehingga memudahkan transportasi. Upaya optimalisasi pengolahan sampah pasar baru tersebut ditunjang dengan peningkatan SDM pengelola melalui pelatihan teknis maupun manajemen disamping peningkatan sarana dan prasarana pendukung pengolahan sampah.

B. SETELAH TAHUN 2009
Pasca tahun 2009 program pengolahan sampah pasar baru direncanakan direplikasi di berbagai pasar tradisional di Kota Probolinggo. Untuk tahun pertama direncanakan dibangun 3 unit tahun kedua 3 unit dan tahun ketiga 2 unit. Dengan demikian akhir tahun 2012 semua sampah pasar tradisional di Kota Probolinggo telah dilakukan pengolahan sebagai unit produksi kompos yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan pupuk organik.

IV. PELUANG DAN HAMBATAN

A. PELUANG
Peluang pemanfaatan sampah organik menjadi kompos adalah :
1. Sampah pasar tradisional sebagai bahan baku produksi tersedia secara terus menerus sepanjang waktu.
2. Kebutuhan pupuk organik sebagai upaya mengembalikan kesuburan tanah akibat penggunaan pupuk kimia yang berlebihan.
3. Meningkatnya konsumsi masyarakat terhadap produk-produk pertanian organik yang sehat dan aman.
4. Kemitraan dengan swasta.

Peluang pemanfaatan sampah pasar disiasati melalui upaya penyadaran kepada masyarakat secara keseluruhan dan membangun minat untuk melakukan pengolahan sampah. Hal ini dilakukan melalui sosialisasi dan pelatihan teknis kepada masyarakat serta integrasi program-program yang dilakukan dinas teknis terkait seperti kesehatan, pekerjaan umum, pertanian, lingkungan hidup dan pemberdayaan masyarakat. Kemitraan dengan swasta merupakan hal penting untuk menjaga keberlanjutan kegiatan baik kemitraan secara langsung dengan pengguna pupuk organik/pekaku (kelompok tani, perkebunan) maupun kemitraan dalam hal pemasaran produksi.

B. HAMBATAN
Hambatan yang dihadapai dalam upaya pemanfaatan sampah pasar menjadi kompos diantaranya adalah :
1. Kondisi sampah pasar masih bercampur antara bahan organik dan bahan non organik.
2. Terbatasnya sarana dan prasarana pengolahan sampah.
3. Terbatasnya dana operasional pengolahan sampah.
4. Penggunaan pupuk organik belum diminati petani.
5. Belum terciptanya jaringan pemasaran produk kompos.
6. Rendahnya minat masyarakat untuk melakukan pengolahan sampah.

Berbagai hambatan yang dihadapi terus diupayakan untuk disikapi dan diberikan solusi melalui:
1. Peningkatan peran serta masyarakat pelaku pasar untuk memilah dan mengumpulkan sampah pasar dengan menyediakan sarana dan prasarana pengolahan sampah.
2. Pengadaan sarana dan prasarana pengolahan sampah secara bertahap sesuai dengan kemampuan pendanaan.
3. Sosialisasi melalui demplot penggunaan pupuk organik hasil pengolahan sampah pasar untuk berbagai jenis tanaman.
4. Membangun jaringan pemasaran pupuk organik dengan pihak pemasaran pupuk organik. 5. Mencipgtakan iklim yang kondusif untuk menarik swasta maupun masyarakat untuk berinvestasi di bidang pengolahan sampah.

V. STRUKTUR ORGANISASI PENGELOLAAN KOMPOS

A. PEMBINA : Walikota Probolinggo
B. PENGAWAS : Bawasda, Yayasan Danamon Peduli
C. PENGURUS : Bappeda, Badan Lingkungan Hidup, Dinas Pertanian, Badan Pemberdayaan Masyarakat, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Kesehatan dan Yayasan Danamon Peduli
D. BENTUK ORGANISASI : Bentuk Organisasi pengelolaan sampah menjadi kompos dilaksanakan UPT Pengolahan Sampah dan Limbah yang merupakan bagian dari Badan Lingkungan Hidup yang bertugas melakukan pengolahan sampah.
E. SUMBER SAMPAH YANG DIOLAH : Tahun 2009 Sumber sampah yang diolah adalah sampah pasar baru Kota Probolinggo dan secara bertahap sesuai dengan perencanaan pengelolaan sampah pasar di seluruh Kota Probolinggo.
F. AREA DISTRIBUSI DAN PEMASARAN : Wilayah Kota Probolinggo dan sekitarnya meliputi Kabupaten Probolinggo, Lumajang dan Pasuruan.
G. ESTIMASI JUMLAH KARYAWAN : Jumlah karyawan yang dibuthkan dalam pengolahan sampah pasar menjadi kompos diperkirakan pata Tahun 2009 sebanyak 5 orang, Tahun 2010 sebaynyak 15 orang dan tahun 2011 sebanyak 15 orang dan tahun 2012 sebanyak 10 orang. H. SUMBER KEUANGAN : Sumber keuangan pengolahan sampah pasar berasal dari APBD Kota Probolinggo, Hasil penjualan kompos dan yayasan Danamon Peduli.

VI. RENCANA DISTRIBUSI DAN PEMASARAN

A. DEMPLOT
Sebagai upaya untuk memperkenalkan pupuk organik hasil pengolahan sampah pasar direncanakan membuat demplot aplikasi pupuk organik untuk tanaman bawang merah, jagung dan padi. Demplot diiringi dengan kegiatan sosialisasi kepada petani dan promosi melalui berbagai media baik surat kabar maupun elektronik. Demplot direncanakan dengan memanfaatkan lahan sawah/pertanian milik pemerintah Kota Probolinggo yang tersebar di wilayah Kota Probolinggo. Promosi dan sosialisasi juga dilakukan secara langsung kepada kelompok-kelompok tani oleh tenaga penyeuluh pertanian.

B. PENJUALAN LANGSUNG
Penjualan langsung disediakan di lokasi pengomposan selain didistribusikan kepada kios-kios pertanian yang ada di Kota Probolinggo. Selain itu juga dilakukan pendekatan kepada stand-stand bunga yang menyediakan pupuk organik untuk kegiatan penanaman bunga. Penjualan langsung di lokasi pengomposan sampah pasar dimaksudkan agar konsumen mengetahui secara langsung proses pembuatan pupuk organik dengan memanfaatkan sampah pasar.

C. PEMANFAATAN OLEH DINAS
Program tamanisasi kota yang dilaksanakan pemerintah Kota Probolinggo membutuhkan pupuk organik yang cukup besar sehingga produksi kompos pengolahan sampah organik pasar dapat diserap pasar. Kegiatan penghijauan kota melalui gerakan penanaman pohon juga membutuhkan pupuk organik. Kegiatan penghijauan terus dilakukan sehingga kebutuhan pupuk organik meningkat setiap tahun. Instansi pemerintah yang membutuhkan pupuk organik diantaranya adalah Badan Lingkungan hidup untuk program Tamanisasi, penghijauan, Dinas pertanian dan Dinas Perikanan untuk kegiatan tambak.

D. KEMITRAAN DENGAN SWASTA
Untuk meningkatkan pemasaran pupuk organik diperlukan kerjasama kemitraan dengan pihak swasta yang bergerak di bidang pupuk. Kerjasama dimaksudkan untuk meningkatkan kulitas pupuk organik dengan menambahkan unsur-unsur yang dibutuhkan tanaman seperti unsur N, P dan K. Penambahan unsur dimaksudkan agar pupuk organik dapat bereaksi dengan cepat terhadap pertumbuhan tanaman sehingga pemanfatannya tidak berbeda dengan penggunaan pupuk kimia. Upaya ini dilakukan untuk menarik minat petani agar menggunakan pupuk organik.

E. SISTEM PEMBAYARAN DAN ADMINISTRASI
Pada tahap awal sistem pembayaran dilakukan dengan sistem bayar setelah panen, yaitu petani membayar pupuk organik setelah panen. Hal ini dilakukan mengingat masih rendahnya minat petani menggunakan pupuk organik. Pemanfaatan oleh konsumen langsung ke lokasi pengomposan dilakukan secara tunai. Pembayaran untuk pemanfaatan pupuk organik oleh institusi pemerintah dilakukan sesuai dengan jadwal realisasi anggaran oleh masing-masing instansi. Sedangkan pembayaran penjualan melalui stand-stand dilakukan setelah pupuk organik laku dijual.

VII. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. KESIMPULAN
1. Upaya pengolahan sampah pasar menjadi kompos merupakan pemanfaatan peluang menjadikan nilai ekonomis terhadap materi yang tidak dimanfaatkan sebelumnya.
2. Pemerintah Kota Probolinggo berkomitmen untuk melakukan pengolahan sampah menjadi kompos sebagai bagian dari upaya penanggulangan pencemarang dan menjaga kelestarian lingkungan.
3. Berbagai hambatan dan kendala yang ada dalam pengolahan sampah menjadikan tantangan untuk dihadapi dan diberikan solusi secara tepat.
4. Upaya pelibatan masyarakat dalam penolahan sampah harus terus dilakukan seiring dengan penyediaan sarana dan prasarana pengolahan sampah.

B. REKOMENDASI
1. Upaya mengolah sampah pasar menjadi kompos perlu mendapat dukungan berbagai pihak baik eksekutif, legislatif maupun masyarakat sebagai pelaku ekonomi.
2. Upaya pemanfaatan kompos untuk kegiatan pertanian oleh petani perlu didukung oleh Departemen Pertanian secara khusus.
3. Keberadaan pelaku-pelaku ekonomi (dunia perbankan) sangat diperlukan untuk memberikan dukungan terhadap upaya penanggulangan pencemarang khsusnya pengolahan sampah sebagai bentuk CSR. Sumber Berita
Baca Selengkapnya...
Informal Meeting Forum (IMF)
Dewan Pembangunan Berkelanjutan (DPB)
Forum Jaringan Manajemen Sampah (FORJAMANSA)
Paguyuban Eco Pesantren
Paguyuban Kader Lingkungan (PAKERLING)
Paguyuban Putri Lingkungan (PUTLING)
Kelompok Masyarakat Pemilah Sampah (POKMAS)
Paguyuban Peduli Sampah (PAPESA)
Penyandang Cacat Peduli Lingkungan Kota Probolinggo (PECEL KOPROL)
Komunitas Pelestari Keanekaragaman Hayati (KOMTARI KEHATI)
Paguyuban Penarik Gerobak Sampah Cekatan Riang Inovatif Amanah (PGS CERIA)
Paguyuban Abang Becak Peduli Lingkungan (ABPL)

Pencarian Artikel

Jumlah Kunjungan

About Me

My photo
By the middle of 2005, the management of environment in Probolinggo city was implemented by 2 (two) units which were subdivision for public cleaning services and parks of Public Works Agency of Probolinggo City and the Office of Environment of Probolinggo City. But in August 2005, considering to the aspects of effectiveness in administration, coordination, budget management dan program operations, then those two units were merged into 1 (one) new governmental institution namely the Agency of Public Cleaning Services and Environment (DKLH) of Probolinggo City. Then, in accordance to the institutional restructure of central and regional government, on July 1st 2008, the Agency of Public Cleaning Services and Environment (DKLH) of Probolinggo City was changed into the Environment Agency (BLH) of Probolinggo City.